Hal ini terlihat dari penurunan kepemilikan investor institusi yang dinilai menunjukkan bahwa sentimen negatif sudah relatif terdiskon.
Indo Premier memperkirakan peningkatan volume penjualan batu bara pada paruh kedua 2026 menjadi salah satu pendorong utama laba HRUM.
Hingga semester I-2026, HRUM baru menjual sekitar 200.000 ton batu bara, jauh di bawah kuota RKAB sebesar 3 juta ton.
Dengan demikian, sebagian besar penjualan diperkirakan terealisasi pada paruh kedua tahun ini.
Ryan memperkirakan porsi Domestic Market Obligation (DMO) meningkat, meskipun batu bara HRUM memiliki kalori yang relatif tinggi dibandingkan kebutuhan PLN. Perseroan juga menghadapi kenaikan biaya bahan bakar.