Menurut Ryan, terdapat sejumlah persoalan yang selama ini menekan persepsi terhadap HRUM.
Pertama, pengembangan tambang bijih nikel berjalan lebih lambat dari rencana awal. Perseroan semula menargetkan produksi sejak 2022, tetapi penjualan perdana baru terealisasi pada kuartal III-2025.
Kedua, kenaikan biaya sulfur menekan margin kas bisnis nikel. Pada kuartal II-2026, margin kas hanya berada di kisaran USD4.000-5.000 per ton, meski peningkatan volume produksi dari fasilitas HPAL milik BSE mulai memberikan dorongan terhadap profitabilitas.
Ketiga, keterlambatan persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) bisnis batu bara turut menekan laba bersih HRUM pada paruh pertama 2026.
Namun, Indo Premier menilai berbagai tekanan tersebut telah banyak tercermin dalam harga saham HRUM.