IDXChannel - India memangkas bea masuk impor sejumlah minyak nabati, termasuk minyak sawit, kedelai, dan bunga matahari.
Kebijakan ini berpotensi mendorong peningkatan impor minyak nabati India dan menjadi katalis tambahan bagi harga crude palm oil (CPO), yang pada akhirnya dapat menopang prospek saham sawit Indonesia.
Mengutip Reuters, Rabu (23/9/2026), pemerintah India menurunkan bea masuk dasar untuk crude palm oil (CPO) dan crude soybean oil menjadi 5 persen dari sebelumnya 10 persen.
Sementara itu, bea masuk minyak sawit dan minyak kedelai olahan dipangkas menjadi 27,5 persen dari 32,5 persen.
Untuk minyak bunga matahari, bea masuk dasar crude sunflower oil dihapus menjadi 0 persen dari sebelumnya 10 persen. Kemudian, tarif untuk minyak bunga matahari olahan diturunkan menjadi 22,5 persen dari 32,5 persen.
Kebijakan tersebut berlaku mulai 24 September 2026 dan diambil pemerintah India untuk menekan harga minyak nabati sekaligus mendorong konsumsi menjelang musim festival keagamaan pada September-November.
Harga minyak nabati di India telah meningkat hampir 20 persen dalam setahun terakhir.
Penurunan bea masuk diperkirakan membuat harga lebih terjangkau dan mendorong konsumsi untuk kebutuhan makanan manis, makanan ringan, serta makanan gorengan selama periode festival.
Dari sisi pasar global, kebijakan tersebut berpotensi meningkatkan permintaan minyak nabati India.
Trader yang dikutip Reuters memperkirakan kenaikan permintaan India dapat menopang harga palm oil Malaysia dan soybean oil Amerika Serikat (AS).
India merupakan salah satu pasar minyak nabati terbesar dunia dan memenuhi hampir dua pertiga kebutuhan domestiknya melalui impor.
Negara tersebut mengimpor minyak sawit, kedelai, dan bunga matahari terutama dari Malaysia, Indonesia, Argentina, Rusia, dan Ukraina.
Penurunan tarif juga diperkirakan mendorong penyuling kembali melakukan pembelian.
Sebelumnya, sejumlah penyuling menahan pembelian karena mengantisipasi penurunan bea masuk. Setelah kebijakan diberlakukan, pembelian diperkirakan meningkat untuk memenuhi kebutuhan selama musim festival.
Analis Trimegah Sekuritas Kharel Devin Fielim dan Alberto Jonas menilai, pada Kamis (24/9/2026), penurunan bea masuk tersebut dapat mendorong kenaikan impor minyak nabati India dan memengaruhi harga minyak sawit serta kedelai global.
“Penurunan bea masuk dapat mendorong peningkatan impor minyak nabati India, yang berpotensi meningkatkan persaingan antar-pemasok sekaligus memengaruhi harga minyak sawit dan kedelai global,” tulis Kharel dan Jonas dalam risetnya.
Menurut mereka, peningkatan permintaan India menjadi perkembangan yang perlu diperhatikan bagi pasar minyak nabati global.
Meski demikian, dampaknya terhadap CPO tetap perlu dilihat bersama dengan pergerakan harga dan pasokan minyak nabati alternatif, terutama soybean oil dan sunflower oil.
Bagi pasar saham Indonesia, potensi peningkatan permintaan tersebut dapat menjadi katalis bagi emiten sawit melalui prospek harga CPO.
Harga CPO yang lebih kuat berpotensi mendukung pendapatan dan margin perusahaan perkebunan, meski kinerja masing-masing emiten tetap dipengaruhi produksi, biaya, dan perkembangan harga komoditas.
Trimegah Sekuritas masih mempertahankan rekomendasi beli atau beli untuk PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) dan PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG), sejalan dengan pandangan positif terhadap prospek sektor sawit. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.