Kedua, tekanan terjadi di hampir seluruh sektor. Sektor konsumer non-primer, properti, dan teknologi menjadi kelompok yang mengalami pelemahan paling dalam. Sementara itu, sektor energi menjadi satu-satunya sektor yang masih menguat.
Ketiga, ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran turut meningkatkan risiko eksternal. Kenaikan harga minyak Brent ke sekitar USD106 per barel berpotensi memperbesar tekanan inflasi.
Di saat yang sama, penguatan indeks dolar AS (DXY) dan kenaikan imbal hasil US Treasury 10 tahun ke kisaran 5,20 persen dapat menekan aset berisiko di pasar negara berkembang.
Kondisi tersebut berlangsung di tengah ekspektasi terhadap arah kebijakan The Fed yang cenderung lebih ketat, sehingga ruang bagi aset berisiko seperti saham di pasar negara berkembang menjadi semakin terbatas. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.