sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

IHSG Turun 7 Persen saat Asing Net Sell Rp4 Triliun Sepekan, Intip 10 Saham Pemberat

Market news editor TIM RISET IDX CHANNEL
01/11/2026 10:22 WIB
Sepanjang pekan perdagangan 26-30 Oktober 2026, investor asing membukukan jual bersih (net sell) jumbo sebesar Rp4,17 triliun di pasar reguler.
IHSG Turun 7 Persen saat Asing Net Sell Rp4 Triliun Sepekan, Intip 10 Saham Pemberat. (Foto: MNC Media)
IHSG Turun 7 Persen saat Asing Net Sell Rp4 Triliun Sepekan, Intip 10 Saham Pemberat. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Tekanan jual investor asing masih membayangi pasar saham Indonesia. Sepanjang pekan perdagangan 26-30 Oktober 2026, investor asing membukukan jual bersih (net sell) jumbo sebesar Rp4,17 triliun di pasar reguler, seiring berlanjutnya ketidakpastian terkait kebijakan MSCI terhadap pasar modal Indonesia.

Tekanan tersebut turut menyeret Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 7,03 persen dalam sepekan.

Pada perdagangan Jumat (30/10/2026), IHSG ditutup turun 0,80 persen ke level 5.057,05.

Sepanjang perdagangan terakhir pekan ini, IHSG bahkan sempat merosot hingga menyentuh level 4.979,34 sebelum akhirnya berbalik naik dan kembali bertahan di atas level psikologis 5.000.

Secara bulanan, tekanan pasar jauh lebih dalam.

IHSG tercatat terkoreksi 16,70 persen sepanjang Oktober 2026, memperpanjang tekanan di tengah kekhawatiran investor terhadap potensi perubahan status Indonesia dalam indeks MSCI dari Emerging Market menjadi Standalone Market.

BYAN hingga TLKM Jadi Pemberat Terbesar IHSG

Sejumlah saham berkapitalisasi pasar besar menjadi pemberat utama pergerakan IHSG sepanjang pekan.

Berdasarkan data kontribusi terhadap indeks, saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) menempati posisi teratas dengan kontribusi negatif sebesar 26,20 poin.

Saham BYAN terkoreksi 14,88 persen dalam sepekan menjadi Rp9.150 per unit.

Berikutnya, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) memberikan tekanan sebesar 23,94 poin terhadap IHSG. Saham TLKM melemah 11,61 persen sepekan.

Tekanan juga datang dari saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) yang anjlok 24,58 persen. Penurunan tersebut menyumbang tekanan sebesar 22,72 poin terhadap IHSG.

Di posisi berikutnya, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) terkoreksi 25,69 persen dan memberikan kontribusi negatif 21,58 poin. Sementara itu, PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) merosot 29,94 persen dan menekan IHSG sebesar 16,90 poin.

Saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) juga masuk dalam daftar pemberat indeks setelah turun 23,15 persen dan menyumbang tekanan 16,66 poin.

Dari sektor perbankan, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) masing-masing memberikan kontribusi negatif 16,20 poin dan 14,35 poin. Saham BBRI terkoreksi 3,78 persen, sedangkan BMRI melemah 4,62 persen.

Lebih lanjut, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dan PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) turut masuk dalam jajaran 10 saham dengan kontribusi negatif terbesar. AMMN turun 9,43 persen dan membebani IHSG sebesar 14,47 poin, sedangkan EMAS terkoreksi 18,35 persen dengan kontribusi negatif 11,34 poin.

Memasuki pekan pertama November, pelaku pasar akan mencermati sejumlah sentimen global dan domestik. Dari eksternal, perhatian tertuju pada pemilu paruh waktu (midterm elections) Amerika Serikat (AS) pada 3 November 2026.

Sementara dari dalam negeri, investor akan menantikan rilis sejumlah indikator ekonomi, mulai dari indeks manufaktur PMI, neraca perdagangan, inflasi, pertumbuhan ekonomi kuartal III-2026, cadangan devisa, hingga indeks harga rumah.

Di sisi kebijakan moneter global, Bank of Japan (BOJ) pada 30 Oktober memutuskan mempertahankan suku bunga acuannya di level 1,25 persen, sesuai dengan ekspektasi pasar.

Keputusan tersebut diambil setelah BOJ menaikkan suku bunga masing-masing 25 basis poin pada Juni dan September 2026.

Dari sisi teknikal, Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG berpotensi menguji area support 4.900-5.000 pada pekan depan.

Apabila mampu bertahan di atas level psikologis 5.000, IHSG berpeluang bergerak sideways dalam rentang 5.000-5.200. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Halaman : 1 2 3 4
Advertisement
Advertisement