Di sisi lain, pasar tenaga kerja Amerika Serikat (AS) masih relatif solid, dengan pertumbuhan nonfarm payrolls (NFP) mencapai 162.000, meski pertumbuhan upah melambat menjadi 3,1 persen secara tahunan.
Kondisi tersebut berpotensi menjaga tekanan terhadap kondisi likuiditas global.
Pengetatan moneter yang berlanjut dapat membuat imbal hasil obligasi tetap tinggi dan menjadi tantangan bagi aset berisiko, termasuk saham di pasar negara berkembang.
Di dalam negeri, Bank Indonesia (BI) memilih mempertahankan BI Rate di level 5,75 persen pada September 2026 meski The Fed menaikkan suku bunga.
Keputusan tersebut membuat selisih BI Rate dengan suku bunga The Fed menyempit menjadi 1,75 persen, meski masih berada di atas rata-rata lima tahun terakhir.
Dari sisi ekonomi domestik, inflasi Indonesia meningkat menjadi 3,28 persen secara tahunan.