Analis BMO Capital Markets menilai, potensi eskalasi konflik membuat pelaku pasar terus mencermati Selat Hormuz, yang sebagian besar terganggu sejak dimulainya serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari.
Di tengah kekhawatiran ini, ekspor minyak dari kawasan Teluk mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Arab Saudi telah kembali mengoperasikan pipa minyak timur-barat serta melanjutkan pemuatan tanker dari pelabuhan Yanbu di Laut Merah.
Namun, pasar masih sensitif terhadap potensi gangguan lalu lintas tanker maupun infrastruktur energi di kawasan tersebut.
Tekanan pasokan juga datang dari pasar produk olahan minyak. Sejumlah laporan menyebutkan kilang-kilang minyak China menghentikan ekspor bahan bakar ke luar Hong Kong dan Makau selama Oktober.
Langkah ini bakal memperketat pasokan global produk olahan, termasuk diesel, bahan bakar jet, dan bensin.
(DESI ANGRIANI)