Badan Energi Internasional (IEA) pada September memperkirakan permintaan batu bara global mencapai rekor tertinggi tahun ini.
Proyeksi tersebut terjadi meski berbagai negara terus mendorong transisi menuju energi yang lebih bersih dan sejumlah pembangkit listrik berbasis batu bara di Eropa serta Amerika Utara ditutup.
Di sisi lain, pasokan dari Indonesia mulai menjadi perhatian pasar.
Indonesia sebagai eksportir batu bara terbesar dunia memperketat pembatasan ekspor yang turut berkontribusi terhadap penurunan pengiriman sebesar 23 persen pada Agustus.
IEA memperkirakan produksi batu bara Indonesia turun lebih dari 12 juta ton tahun ini. Penurunan tersebut dikaitkan dengan kuota produksi yang lebih rendah serta ketidakpastian kebijakan.
Mengutip The Coal Hub, harga batu bara Indonesia dengan spesifikasi 5.900 GAR ((Gross As Received) telah menembus USD120 per ton, sedangkan batu bara 4.200 GAR naik menjadi USD79 per ton.