"Kami juga menduga bahwa narasi yang muncul dari Prancis dan Zona Euro dapat meredam kecenderungan The Fed untuk kembali menaikkan suku bunga. Jika kawasan Euro atau negara-negara UE secara umum terpaksa menerapkan langkah-langkah penghematan demi meredam kekhawatiran pasar obligasi, permintaan agregat global akan terdampak negatif," tambah Wizman.
Di sisi lain, data menunjukkan inflasi utama Zona Euro naik tajam menjadi 3,8 persen pada September dari 3,2 persen pada bulan sebelumnya, melampaui perkiraan sebesar 3,6 persen. Lonjakan ini terutama didorong oleh biaya gas alam dan bahan bakar. Angka inflasi inti yang menjadi sorotan—yang tidak memperhitungkan harga energi dan pangan yang fluktuatif—naik tipis menjadi 2,5 persen dari 2,4 persen, didorong oleh kenaikan biaya di sektor jasa.
Yen Menguat Menyusul Data Inflasi Tokyo
Di Asia, yen Jepang mencatatkan penguatan, naik ke level 157,82 terhadap dolar AS. Kenaikan ini dipicu oleh data harga konsumen Tokyo yang menunjukkan bahwa inflasi umum maupun inflasi inti sama-sama melonjak ke tingkat tertinggi sejak November 2025—jauh melampaui target 2 persen Bank of Japan (BOJ).
Data tersebut memperkuat keyakinan pasar bahwa BOJ akan melanjutkan langkah pengetatan kebijakan moneter dalam beberapa bulan mendatang, menyusul kenaikan suku bunga sebesar seperempat poin pada bulan September. Prospek kenaikan suku bunga lebih lanjut memicu aksi beli terhadap surat utang pemerintah Jepang, sehingga menurunkan biaya pinjaman acuan tenor 10 tahun sebesar 1,2 basis poin setelah sempat menyentuh level tertinggi dalam 30 tahun pada awal pekan ini. (Febrina Ratna Iskana)