sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Bursa Asia Variatif, Harga Minyak Kembali Naik di Tengah Ketidakpastian Gencatan Senjata

Market news editor TIM RISET IDX CHANNEL
28/09/2026 09:15 WIB
Bursa saham Asia bergerak variatif pada perdagangan Senin (28/9/2026), di tengah kembali naiknya harga minyak dan meningkatnya kekhawatiran pasar.
Bursa Asia Variatif, Harga Minyak Kembali Naik di Tengah Ketidakpastian Gencatan Senjata. (Foto: Reuters)
Bursa Asia Variatif, Harga Minyak Kembali Naik di Tengah Ketidakpastian Gencatan Senjata. (Foto: Reuters)

IDXChannel - Bursa saham Asia bergerak variatif pada perdagangan Senin (28/9/2026), di tengah kembali naiknya harga minyak dan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap ketidakpastian gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Kenaikan harga energi kembali menekan pasar obligasi karena investor mengantisipasi inflasi yang lebih persisten dan suku bunga global yang lebih tinggi dalam waktu lebih lama.

Pada 08.58 WIB, indeks Shanghai Composite melemah 1,06 persen, sedangkan KOSPI Korea Selatan turun 2,20 persen. Sebaliknya, Hang Seng Hong Kong naik 0,50 persen, ASX 200 Australia menguat 0,27 persen, dan STI Singapura mendaki 0,48 persen.

Sementara, Nikkei Jepang naik 0,8 persen, sementara indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang turun 0,2 persen.

Pergerakan tersebut terjadi setelah harga minyak kembali menguat seiring belum jelasnya prospek tercapainya gencatan senjata AS-Iran.

Presiden AS Donald Trump pada akhir pekan menolak proposal Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz, meski menyatakan pembicaraan akan berlanjut pekan ini.

Harga minyak Brent sempat naik 1,6 persen menjadi USD106 per barel, sehingga penguatannya sepanjang September mencapai sekitar 17 persen.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 1,1 persen menjadi USD93,47 per barel.

Kenaikan harga energi menjadi perhatian pasar karena keterbatasan kapasitas pengolahan turut mendorong harga diesel ke level tertinggi sepanjang masa, jauh di atas harga minyak mentah.

Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran bahwa tekanan inflasi dapat bertahan dan masuk ke dalam penetapan harga maupun upah.

Tekanan terhadap obligasi pun berlanjut. Mengutip Reuters, imbal hasil US Treasury tenor 30 tahun naik ke 5,5185 persen, mendekati level tertinggi sejak 2004.

Imbal hasil tenor tersebut telah melonjak 27 basis poin sepanjang September, sementara yield dua tahun telah naik 55 basis poin di tengah meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Pasar kini memperhitungkan peluang sekitar 66 persen bahwa The Fed kembali menaikkan suku bunga pada pertemuan Oktober.

Hingga akhir tahun depan, pasar juga telah memperhitungkan pengetatan sekitar 90 basis poin.

Meski demikian, tekanan dari suku bunga dan energi belum sepenuhnya menghapus dukungan terhadap saham.

Data ekonomi AS yang kuat masih menopang ekspektasi terhadap kinerja korporasi, sementara aktivitas ekonomi di Asia dan Eropa juga tetap solid, antara lain didorong oleh investasi kecerdasan buatan (AI).

Di Eropa, futures EUROSTOXX 50 menguat 0,4 persen, DAX futures naik 0,3 persen, dan FTSE futures bertambah 0,2 persen. Adapun S&P 500 futures turun 0,2 persen, sedangkan Nasdaq futures bergerak datar. (Aldo Fernando)

Halaman : 1 2 3 4
Advertisement
Advertisement