sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Asing Mulai Melirik, The Fed dan Minyak Masih Jadi Batu Sandungan IHSG

Market news editor TIM RISET IDX CHANNEL
18/09/2026 06:32 WIB
Investor asing mulai kembali memperhatikan pasar saham Indonesia seiring membaiknya sejumlah kebijakan domestik.
Asing Mulai Melirik, The Fed dan Minyak Masih Jadi Batu Sandungan IHSG. (Foto: MNC Media)
Asing Mulai Melirik, The Fed dan Minyak Masih Jadi Batu Sandungan IHSG. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Investor asing mulai kembali memperhatikan pasar saham Indonesia seiring membaiknya sejumlah kebijakan domestik.

Namun, analis menilai arah suku bunga Federal Reserve (The Fed) dan harga minyak masih menjadi penentu penting bagi keberlanjutan pemulihan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Hal tersebut disampaikan analis CGS International Sekuritas Indonesia (CGSI) Hadi Soegiarto dan Elizabeth Noviana dalam riset bertajuk Glass Half Full, Not Half Empty yang terbit pada 15 September 2026.

CGSI mencatat investor asing secara bertahap mulai memperhatikan moderasi kebijakan pemerintah Indonesia. Perkembangan tersebut tercermin dari aliran dana asing bersih sebesar USD155 juta pada pekan pertama September 2026.

Meski demikian, perhatian asing terhadap Indonesia masih relatif terbatas. Salah satu penyebabnya adalah bobot Indonesia yang hanya 0,5 persen dalam indeks MSCI APAC ex-Japan pada Agustus 2026, turun dari 1,2 persen pada Desember 2025.

Bobot tersebut juga jauh lebih kecil dibandingkan sejumlah negara Asia Tenggara. Pada Agustus 2026, bobot Indonesia hanya sekitar 51 persen dari Thailand, 50 persen dari Malaysia, dan 14 persen dari Singapura.

“Kondisi tersebut membuat dampak perbaikan kebijakan domestik terhadap arus dana asing membutuhkan waktu lebih panjang,” tulis analis CGSI.

Investor asing kini cenderung menunggu bukti konsistensi kebijakan dalam periode yang lebih panjang sebelum meningkatkan investasi untuk jangka panjang.

Kendati demikian, CGSI melihat ruang bagi IHSG untuk melanjutkan tren kenaikan apabila pemerintah terus menghadirkan kebijakan yang ramah terhadap pasar.

Namun, ruang tersebut masih dibayangi faktor eksternal, terutama ketidakpastian suku bunga The Fed dan tingginya harga minyak.

Dalam risetnya, CGSI menyebut kenaikan ekspektasi terhadap suku bunga The Fed dan harga minyak yang tinggi secara bertahap menekan selera investor terhadap aset berisiko, termasuk Indonesia.

Karena itu, arah kebijakan The Fed yang lebih pasti serta penurunan harga minyak dinilai menjadi faktor penting sebelum IHSG dapat kembali melanjutkan tren penguatannya.

Sorotan investor juga tertuju pada kebijakan fiskal dan moneter Indonesia karena keduanya berkaitan erat dengan kepercayaan terhadap rupiah.

Dari sisi fiskal, investor mempertanyakan peluang pemerintah menurunkan defisit sesuai arahan pemerintah, terutama ketika harga minyak dan beban subsidi masih tinggi.

CGSI menilai jika Menteri Keuangan baru mampu merealisasikan penurunan defisit tersebut, langkah itu dapat dipandang positif oleh investor asing.

Sementara dari sisi moneter, investor mencermati sikap Bank Indonesia (BI) dalam menghadapi kebijakan The Fed yang lebih ketat, terutama dampaknya terhadap stabilitas rupiah.

Kekhawatiran terhadap The Fed kini mendapat relevansi lebih besar setelah bank sentral Amerika Serikat tersebut menaikkan suku bunga 25 basis poin pada Rabu (16/9).

Suku bunga The Fed kini berada di kisaran 3,75-4 persen, sekaligus menjadi kenaikan pertama sejak 2023. Ketua The Fed Kevin Warsh turut memberikan suara mendukung keputusan tersebut secara bulat.

The Fed juga mengisyaratkan masih ada ruang untuk satu kali kenaikan suku bunga pada 2026. Proyeksi bank sentral AS menunjukkan suku bunga kemudian dipertahankan sepanjang 2027.

Inflasi yang masih tinggi, termasuk tekanan dari kenaikan harga minyak, menjadi salah satu pertimbangan utama dalam kebijakan tersebut.

Di sisi lain, CGSI menilai perpanjangan pembekuan (freeze) indeks MSCI pada tinjauan November 2026 kemungkinan hanya menjadi kekecewaan ringan bagi investor asing dan tidak serta-merta memicu aksi jual.

Investor yang ditemui analis, menurut CGSI, lebih menaruh perhatian pada perkembangan makroekonomi dan kebijakan domestik.

Namun, CGSI menilai pemulihan penuh IHSG menuju level yang sempat disentuh pada 2025 tetap membutuhkan pencabutan pembekuan MSCI.

Faktor sosial juga menjadi perhatian sebagian investor setelah aksi demonstrasi yang terjadi pada 26 Agustus 2026. Meski demikian, CGSI menggambarkan kekhawatiran tersebut masih terbatas.

Dengan berbagai faktor tersebut, CGSI tetap melihat kondisi pasar dari perspektif glass half full. Analis memperkirakan pemulihan IHSG dapat kembali berlanjut apabila tekanan eksternal mulai stabil.

Untuk saham pilihan, CGSI memasukkan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), PT Astra International Tbk (ASII).

Kemudian, PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL), PT Timah Tbk (TINS).

Selanjutnya, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA), PT MAP Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA), PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN), dan PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM).

CGSI menambahkan BBRI ke dalam daftar tersebut karena memperkirakan perbaikan metrik operasional dan kualitas aset dalam jangka pendek dapat mendorong pertumbuhan laba bersih perseroan melampaui sebagian besar perusahaan sejenis. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Halaman : 1 2 3 4 5 6
Advertisement
Advertisement