Tekanan neraca tersebut salah satunya dipicu oleh tingginya beban impor energi, yang kini mulai ditekan lewat implementasi bauran energi domestik seperti mandatori B50 dan etanol E20. Upaya menahan rembesan devisa migas ini dijalankan beriringan dengan perluasan pasar luar negeri agar nilai tukar rupiah tetap berada dalam posisi yang seimbang.
"Impor energi benar-benar membebani devisa dan berimbas langsung ke mata uang kita, itulah mengapa strategi promosi ekspor dan substitusi impor kini menjadi kunci," ujar dia.
Selain memperdalam instrumen LCT untuk perdagangan dan investasi, otoritas moneter memperluas integrasi sistem pembayaran melalui konektivitas QRIS Cross-Border yang telah beroperasi di tujuh negara. Jalur diplomasi langsung ini kian diminati kawasan regional, tecermin dari langkah proaktif sejumlah bank sentral asing yang mendatangi BI untuk menjalin integrasi serupa.
"Singapura bersiap menyusul masuk ke skema LCT setelah sebelumnya terhubung QRIS, sementara India berencana bergabung di kedua instrumen tersebut karena pendekatan bilateral memang jauh lebih efektif," kata Destry.
(NIA DEVIYANA)