Untuk mengantisipasi hambatan non-tarif tersebut, asosiasi bisnis kedua negara didorong mempererat koordinasi dalam berbagi data intelijen pasar, menyelaraskan kepatuhan hukum, serta merintis jaringan distribusi logistik yang tangguh.
Sinergi ini dinilai sejalan dengan arah transformasi ekonomi Indonesia yang berfokus pada hilirisasi industri, percepatan adopsi teknologi, dan integrasi yang lebih dalam ke rantai nilai global.
Edi mengatakan optimalisasi instrumen kerja sama bilateral yang telah terbentuk dinilai menjadi kunci utama dalam memastikan setiap nota perundingan membuahkan hasil nyata bagi perekonomian.
"Menerjemahkan komitmen bilateral menjadi hasil bisnis yang konkret adalah bagian yang paling menantang. Ambisi kita tidak boleh sekadar meningkatkan volume perdagangan, melainkan juga mendiversifikasi ekspor, memperkuat produksi bernilai tambah, serta memperluas investasi dan kemitraan industri," urai Edi. (Febrina Ratna Iskana)