Berdasarkan data resmi BPS, industri pengolahan secara konsisten menjadi kontributor lapangan usaha terbesar bagi perekonomian nasional dengan pangsa berkisar antara 18,50 persen hingga 19,07 persen terhadap PDB.
Dominasi ini ditopang kuat oleh subsektor industri makanan dan minuman (mamin) sebagai penyumbang terbesar berkat tingginya konsumsi olahan pangan, kelapa sawit (crude palm oil/CPO), dan produk turunannya.
Selain komoditas pangan, kinerja moncer manufaktur turut didorong oleh lonjakan pertumbuhan industri logam dasar seiring keberhasilan program hilirisasi mineral besi dan baja, serta sokongan industri kimia, farmasi, dan obat tradisional.
Kekuatan fundamental manufaktur nasional dinilai memiliki fondasi yang kokoh berkat sokongan basis konsumen dalam negeri yang masif. Kemenperin menilai perputaran belanja masyarakat menjadi modal penopang yang efektif untuk menyerap hasil produksi industri lokal.
"Kita memiliki modal kuat karena pasar domestik dengan 287,2 juta jiwa mampu menggerakkan konsumsi rumah tangga sekitar Rp12,834 triliun yang bisa menjadi kontribusi terbesar untuk meningkatkan perekonomian sekaligus produktivitas industri," kata Faisol.