Pemerintah menargetkan pengembangan lahan jagung seluas 300 ribu hektare dengan asumsi produktivitas rata-rata 7 ton per hektare. Dari luasan tersebut, potensi produksi jagung diproyeksikan mencapai 2,1 juta ton per tahun.
Sebanyak 1,8 juta ton dari total produksi tersebut direncanakan untuk memenuhi kebutuhan pakan peternak melalui koperasi dan kelompok peternak. Sementara itu, potensi surplus sekitar 300 ribu ton akan diserap Bulog.
Penyerapan kelebihan produksi jagung tersebut direncanakan menggunakan pendekatan sistem resi gudang. Stok yang tersimpan selanjutnya dapat disalurkan kepada peternak melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) sesuai ketentuan pemerintah.
"Kita dahulukan kepentingan petani dan peternak Indonesia agar keduanya terlindungi dan usaha mereka terus berjalan,” kata Amran.