Terdapat lonjakan ekspor pada logam mulia, perhiasan, dan permata (HS 71) yang naik sebesar 116,33 persen; mesin dan perlengkapan elektrik (HS 85) yang naik 19,91 persen; serta karet dan barang dari karet (HS 40) yang naik 14,87 persen (MtM).
“Kinerja ekspor nasional pada September 2026 yang tumbuh 3,68 persen dibanding bulan sebelumnya mencerminkan resiliensi Indonesia di tengah dinamika global. Penguatan ini ditopang secara konsisten oleh sektor industri pengolahan yang sejalan dengan program hilirisasi untuk meningkatkan ekspor produk bernilai tambah,” ujar Mendag Busan.
Budi menjelaskan bahwa pada Januari–September 2026, total ekspor Indonesia mencapai USD221,23 miliar, tumbuh 5,58 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya (CtC).
Kinerja ini ditopang oleh ekspor nonmigas yang tumbuh 6,30 persen dari USD199,69 miliar ke USD212,27 miliar, sementara ekspor migas terkontraksi 9,11 persen (CtC) dari USD9,86 miliar ke USD8,96 miliar.
Sektor industri pengolahan juga tetap menjadi penopang utama ekspor Januari–September 2026 dengan nilai ekspor USD182,83 miliar, berkontribusi sebesar 82,64 persen terhadap total ekspor, dan tumbuh sebesar 8,93 persen (CtC).