Faktor pertama adalah kendala logistik dan rantai distribusi, mencakup keterlambatan kapal pengangkut, hambatan proses bongkar muat, keterbatasan armada tangki, hingga kendala operasional depot dan jadwal suplai.
Temuan di Bali, misalnya, mengaitkan kemacetan pengisian dengan keterlambatan kapal serta kendala bongkar muat di Integrated Terminal (IT) Manggis, sedangkan di Sulawesi Barat terdapat kendala pasokan dari Depot Parepare, serta keterbatasan armada dan ketersediaan pengemudi di Sumatera Utara.
Faktor kedua berkaitan dengan ketidaksinkronan antara kebutuhan nyata di lapangan, alokasi kuota, serta pasokan jenis BBM tertentu. Catatan di Sumatera Selatan menunjukkan terjadinya migrasi sebagian konsumen dari BBM nonsubsidi ke Solar, persoalan kuota konsumsi, serta keterlambatan distribusi bahan baku campuran Biosolar.
Faktor ketiga bertumpu pada kapasitas layanan internal SPBU, yang mencakup jam buka operasional, ketersediaan dan kemampuan nozzle, pengaturan alur antrean, serta minimnya kejelasan informasi yang memperlama waktu tunggu saat permintaan melonjak.