Pendampingan literasi tersebut tidak berhenti pada jenjang pendidikan dasar dan menengah semata. OJK merancang kesinambungan instrumen tabungan agar nasabah muda tetap terbiasa mengelola uang secara mandiri seiring bertambahnya usia.
"Anak-anak ini nantinya bisa pindah dari SimPel ke SiMuda, yaitu Simpanan Pemuda. Tabungannya bisa disisihkan tergantung target mereka, misalnya untuk beli properti atau masuk ke reksa dana," ujar Friderica.
Melalui skema Simpanan Pemuda (SiMuda), para pelajar yang mulai menapaki usia dewasa diarahkan untuk mendiversifikasi simpanan mereka ke instrumen pasar modal maupun aset berwujud. Pola pendampingan berkelanjutan ini diharapkan mampu menumbuhkan kebiasaan berinvestasi sejak dini, sekaligus menjaga agar akun perbankan nasabah tetap aktif berputar.
Keberlanjutan ekosistem finansial sejak usia dini ini diproyeksikan menjadi fondasi penting dalam membangun ketahanan ekonomi generasi penerus. Friderica menggarisbawahi soal konsistensi edukasi terkait keuangan menjadi penentu agar fasilitas rekening ini benar-benar memberi manfaat nyata.
"Harapannya tabungan-tabungan ini bisa menemani anak-anak dari mulai sekolah sampai nanti mereka dewasa. Makanya nasabah harus terus dibimbing supaya rekeningnya tidak jadi dormant," tuturnya.