IDXChannel - Microsoft berencana menawarkan program pensiun dini kepada 60.000 karyawan sebagai bagian dari upaya menekan biaya di tengah pesatnya adopsi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Langkah ini menjadi sorotan di tengah isu perubahan strategi perusahaan dan struktur tenaga kerja di tengah perkembangan teknologi
Dilansir The Guardian, Selasa (27/10/2026), program baru tersebut menambah serangkaian langkah efisiensi yang telah dilakukan Microsoft sepanjang 2026. Pada April lalu, perusahaan menawarkan program pensiun sukarela kepada 125.000 karyawan di Amerika Serikat (AS). Secara global, Microsoft saat ini memiliki 223.000 karyawan.
Tawaran pensiun ini akan mencakup sejumlah divisi utama Microsoft, termasuk Xbox, Windows, dan Copilot. Namun, karyawan di beberapa divisi, seperti keamanan siber, pusat data, dan pemasaran, tidak memenuhi syarat untuk mengikuti program tersebut.
Wakil Presiden Eksekutif & Chief People Officer Microsoft Amy Coleman mengatakan, program ini memberikan pilihan bagi karyawan yang mempertimbangkan untuk meninggalkan perusahaan dengan dukungan selama masa transisi. Program tersebut juga memungkinkan sejumlah unit bisnis menyesuaikan jumlah tenaga kerja dengan kebutuhan yang terus berubah.
“Program ini memberikan pilihan baru bagi karyawan yang memenuhi syarat dan sedang mempertimbangkan masa depan di luar perusahaan untuk melakukan transisi sekarang dengan dukungan. Program ini juga memberi organisasi yang berpartisipasi cara lain untuk menyesuaikan tenaga kerja dengan kebutuhan yang berubah,” ujarnya.
Sejumlah perusahaan teknologi lainnya juga melakukan pemangkasan karyawan di tengah meningkatnya investasi AI. Meta, induk Facebook dan Instagram, pada April lalu mengumumkan rencananya untuk memangkas 10 persen tenaga kerjanya atau sekitar 8.000 karyawan. Amazon juga melakukan beberapa gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK), termasuk di divisi ritelnya. Sementara itu, Oracle memangkas sekitar 21.000 pekerjaan pada Juni.
Meski demikian, efektivitas pengurangan tenaga kerja untuk meningkatkan produktivitas masih menjadi pertanyaan. Sejumlah perusahaan, termasuk Meta, bahkan mengurangi skala rencana PHK mereka. Di Microsoft sendiri, salah satu petingginya, Ryan Roslansky, sebelumnya menyoroti fenomena “AI slop” terkait rendahnya hasil kerja dengan bantuan AI.
Sebuah makalah kerja yang diterbitkan National Bureau of Economic Research juga menemukan bahwa 90 persen dari 9.000 eksekutif senior yang disurvei di berbagai negara menyatakan AI belum meningkatkan produktivitas di perusahaan mereka. Temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan investasi teknologi belum tentu langsung menghasilkan efisiensi operasional.
(Rahmat Fiansyah)