Rencana penguatan kurikulum kebencanaan ini juga sejalan dengan inisiatif Kemenag yang baru saja membentuk tim koordinasi penanganan darurat bernama Kemenag Peduli. Tim ini tidak hanya berfokus pada respons cepat ketika bencana terjadi, melainkan juga mendukung langkah-langkah preventif serta edukatif di lingkungan satuan pendidikan agama.
“Langkah integrasi kurikulum ini terhubung langsung dengan tim Kemenag Peduli yang baru kita bentuk. Fokus kita bukan hanya tanggap darurat pascabencana, melainkan membangun kesiapan sejak dini di lingkungan pendidikan,” kata Romo Syafii.
Lebih lanjut, Wamenag mendorong pembaharuan cara pandang kurikulum di madrasah dan pesantren dengan menghapus dikotomi lama antara ilmu umum dan ilmu agama. Baginya, ilmu-ilmu sains seperti geologi kebencanaan, matematika, fisika, kimia, dan biologi pada hakikatnya merupakan bagian integral dari pendidikan keagamaan yang memperkuat pemahaman atas ciptaan Tuhan.
“Jangan lagi ada sekat 'ini ilmu umum, ini ilmu agama'. Kimia, biologi, matematika, maupun sains kebencanaan hakikatnya adalah bagian dari pendidikan agama. Santri yang sedang mendalami ilmu apa pun sesungguhnya tengah menjalankan proses pendidikan Islam,” ujarnya.
Wamenag juga turut menyampaikan apresiasi terhadap kemajuan tata kelola dan fasilitas pondok pesantren modern saat ini yang dinilainya sudah sangat representatif. Dia memandang para santri hari ini memiliki ekosistem belajar yang jauh lebih layak, asri, dan suportif untuk mengasah potensi intelektual maupun spiritual secara optimal.