"Genangan air menempati bagian terendah kawah, sementara proses kimia dan pengendapan mineral di sekitarnya menciptakan kontras warna yang dari udara terlihat sangat menyerupai kuning telur dengan putih telur," katanya.
"Jadi, fenomena ini merupakan proses geokimia alami di lingkungan kawah vulkanik aktif, bukan sesuatu yang aneh, misterius, atau pertanda bahaya," kata Daryono.
Daryono menjelaskan, kemunculan fenomena tersebut dapat dipahami sebagai rangkaian perubahan aktivitas di kawah setelah erupsi besar Anak Krakatau pada 3 September.
"Jadi urutannya kira-kira erupsi besar Anak Krakatau 3 September, aktivitas permukaan kemudian mereda, rekaman udara menampilkan genangan kawah dengan pola kuning-putih, video mulai viral 18 September, 19 September pemberitaan makin meluas dan masyarakat ingin tahu apa sebabnya?" katanya.
Dia menambahkan, istilah telur ceplok bukan merupakan nama resmi dalam vulkanologi, melainkan sebutan publik untuk menggambarkan penampakan visual tersebut.
"Catatan penting, istilah telur ceplok tampaknya adalah sebutan publik untuk penampakan visual tersebut, bukan nama fenomena vulkanologi resmi," katanya.
Daryono menyebut fenomena itu sebagai genangan kawah yang mengalami perubahan geokimia akibat interaksi air, gas vulkanik, dan batuan.
"Saya menyebutnya genangan kawah yang mengalami perubahan geokimia akibat interaksi air, gas vulkanik, batuan (acid-sulfate alteration). Fenomena ini dapat muncul atau berubah setelah episode erupsi karena sistem hidrotermal dan suplai gas di dalam kawah mengalami perubahan," katanya.
(Nur Ichsan Yuniarto)