"Memang yang agak sulit itu kalau menghadapi dari sisi tour operator-nya menjual terlalu murah sehingga dia mencari mitranya yang relatif juga harganya sangat kompetitif. Di situ biasanya faktor keselamatan menjadi terabaikan. Bagi kami, itu yang jelas aspek keselamatan kami sendiri juga melakukan seleksi terhadap mitra,” ujar dia.
Ia menambahkan bahwa sebagian besar insiden keselamatan yang terjadi belakangan ini dialami oleh penyedia jasa di luar ekosistem resmi yang dinaungi GIPI.
"Sejauh ini, apa yang kami lihat adalah bahwa apabila prosedur pemilihan mitra itu berjalan dengan baik, alhamdulillah, kecelakaannya relatif kecil. Namun, memang betul ada yang saya sampaikan, kebanyakan yang mengalami problem itu justru yang di luar jangkauan kami,” ungkap Hariyadi.
“Artinya memang mereka adalah tour operator yang tidak tergabung di dalam asosiasi. Di GIPI sendiri ada 25 asosiasi persatuan yang telah bergabung di dalam (GIPI). Jadi kita cukup baik, bahkan beberapa asosiasi anggota GIPI itu juga menjalin kerja sama dengan pihak asuransi. Ini juga cukup baik,” tambah dia.
Tak hanya fokus pada moda transportasi pengangkut wisatawan, Haryadi menuturkan bahwa pengawasan keselamatan juga diterapkan secara ketat pada objek wisata berbasis wahana rekreasi.