Budi mencontohkan, pada 2020, estimasi jumlah kasus TBC mencapai sekitar 824 ribu kasus, sedangkan jumlah kasus yang berhasil ditemukan masih kurang dari 400 ribu.
Akibatnya, banyak penderita yang belum teridentifikasi dan berpotensi menularkan penyakit kepada orang lain.
“Yang ketemu kurang dari setengahnya, kurang dari 50 persen. Akibatnya apa? Mereka jalan-jalan ke mana-mana menularkan penyakit ini,” kata Budi.
Budi mengatakan pemerintah kemudian meningkatkan upaya skrining agar lebih banyak pasien TBC dapat ditemukan dan segera mendapatkan pengobatan.
Ia menyebut jumlah kasus yang berhasil ditemukan meningkat dari sekitar 440 ribu pada 2022 menjadi sekitar 700 ribu, kemudian 800 ribu, hingga mencapai 886 ribu dalam perkembangan yang dipaparkannya.