“Dari hasil MBG prasmanan itu, tingkat kehabisannya relatif tinggi. Jadi habis. Kalau masih ada sisa, siswa yang masih ingin nambah bisa nambah. Kemudian makanannya itu hangat-hangat dibawa ke kelas, jadi lebih segar, lebih hangat, lebih enak,” katanya.
Selain mendorong konsumsi makanan, metode prasmanan juga dinilai dapat menjadi sarana edukasi bagi siswa. Dalam pelaksanaannya, peserta didik dapat terlibat secara bergiliran dalam kegiatan pelayanan makanan kepada teman-temannya.
Keterlibatan tersebut menjadi bagian dari pembelajaran tanggung jawab, kedisiplinan, kesabaran saat mengantre, serta kepedulian terhadap sesama. Sudaryono menegaskan, aktivitas itu bukan untuk menggantikan tugas petugas, melainkan mendukung pendidikan karakter di sekolah.
“Ini bagian dari edukasi bagaimana siswa itu ikut melayani temannya. Di banyak kegiatan makan siang di sekolah, di banyak negara, siswa secara piket ikut terlibat. Di situ ada mengantre, ada melayani, ada belajar sabar. Ini bagian dari pendidikan,” katanya.
Meski demikian, penerapan MBG prasmanan membutuhkan kesiapan dapur penyedia layanan dan sekolah. BGN akan memulai perluasan dari SPPG dan sekolah yang bersedia serta mampu menjalankan metode tersebut.