sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Bakom RI Ungkap Pencopotan Purbaya Sebagai Menkeu Bukan Karena Kinerjanya Buruk

News editor Felldy Utama
17/09/2026 22:00 WIB
Bakom RI menampik kabar yang menyebut pencopotan Purbaya sebagai Menkeu akibat tak dapat memenuhi ekspektasi yang diharapkan Presiden Prabowo Subianto.
Bakom RI Ungkap Pencopotan Purbaya Sebagai Menkeu Bukan Karena Kinerjanya Buruk. (Foto: iNews Media Group)
Bakom RI Ungkap Pencopotan Purbaya Sebagai Menkeu Bukan Karena Kinerjanya Buruk. (Foto: iNews Media Group)

IDXChannel - Tenaga Ahli Badan Komunikasi Pemerintah Republik Indonesia (Bakom RI), Fithra Faisal, menampik kabar yang menyebut pencopotan Purbaya Yudhi Sadewa sebagai Menteri Keuangan (Menkeu) akibat tak dapat memenuhi ekspektasi yang diharapkan Presiden Prabowo Subianto.

Fithra menegaskan bahwa pencopotan tersebut sama sekali tidak berkaitan dengan masalah kinerja atau kegagalan target ekonomi. Ia bahkan mengibaratkan situasi tersebut seperti seorang bintang sepak bola yang ditarik keluar pelatih sesaat setelah mencetak gol.

"Bayangkan dalam sebuah pertandingan sepak bola, Kylian Mbappe mencetak dua gol, dan ketika dia sedang merayakan gol, tiba-tiba (pelatih) Mourinho langsung memanggilnya untuk melakukan pergantian pemain. Itu yang juga terjadi dengan Pak Purbaya, tidak ada masalah. Beliau adalah pencetak gol ulung," kata Fithra dalam program Interupsi, Kamis (17/9/2026).

Sebagai bukti bahwa kinerja ekonomi di bawah kepemimpinan Purbaya tidak bermasalah, Fithra memaparkan sejumlah data pencapaian makroekonomi. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi nasional berada di jalur yang sangat positif.

"Kalau kita lihat bagaimana pertumbuhan ekonomi kita di kuartal I sebesar 5,61 persen, kuartal II sebesar 5,29 persen, dan secara rata-rata semester I mencapai 5,45 persen. Itu sudah di atas rata-rata 10 tahun terakhir," ujarnya.

Jika merujuk pada rentang tahun 2014 hingga 2024 (dengan mengecualikan masa pandemi), rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional berada di kisaran 5,07 persen. Dari indikator ini, kata Fithra, Purbaya sejatinya telah menorehkan "gol" yang signifikan bagi perekonomian negara.

Dari sisi fiskal, Fithra juga memastikan tidak ada persoalan mendasar. Berdasarkan laporan semester I-2026 APBN, pendapatan negara (revenue) tercatat mencapai Rp1.459 triliun atau tumbuh secara year-on-year (yoy) sebesar 21,4 persen. Sementara dari sisi belanja negara tercatat sebesar Rp1.656 triliun dengan pertumbuhan 17,8 persen (yoy). 

Kapasitas fiskal yang kuat ini, lanjut dia, bahkan diakui dan dicatat oleh lembaga pemeringkat internasional, S&P Global Ratings.

Fithra menjelaskan bahwa perombakan di tengah jalan murni merupakan kebutuhan strategi tim dan sepenuhnya merupakan hak prerogatif Presiden selaku "pelatih" di kabinet. 

Ia menyebutkan, arah kebijakan pemerintah saat ini tidak hanya berfokus pada pertumbuhan ekonomi semata, melainkan juga merujuk pada patron ekonomi Prof. Soemitro Djojohadikusumo yang ditekankan oleh Presiden. Fokus tersebut mencakup tiga pilar utama: pertumbuhan ekonomi, pemerataan pembangunan, dan stabilitas nasional.

"Kita harus melihat bagaimana kebutuhan tim. Itu adalah hak prerogatif Presiden dalam konteks kabinet, melihat kebutuhan timnya agar butuh lebih seimbang dari sisi ini, sehingga kita bisa mempertahankan keunggulan," tuturnya.

Menanggapi sorotan publik ihwal waktu pencopotan yang dilakukan secara mendadak di tengah Purbaya sedang aktif bekerja, Fithra menegaskan bahwa dinamika perombakan kabinet bisa terjadi kapan saja sesuai diskresi Kepala Negara.

"Sekali lagi, kalau kita bicara mengenai hak prerogatif Presiden, itu bisa dilakukan kapan saja. Sebagaimana tadi analoginya, ketika seorang pemain sedang merayakan gol dan dia diganti, ya kenapa? Karena memang dibutuhkan untuk pergantian strategi permainan tersebut," ujarnya. (Febrina Ratna Iskana)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement