Buffett pertama kali mengumumkan rencananya untuk mundur dari konglomerat tersebut pada Mei 2025, sebuah langkah yang mengejutkan para pemegang saham dan analis mengingat usianya. Setelah puluhan tahun memimpin, sosoknya telah menjadi identik dengan perusahaan tersebut, menjadikan proses suksesinya salah satu yang paling disorot di dunia korporasi Amerika.
Bisnis Berkshire mencakup asuransi mobil Geico, perusahaan kereta api BNSF, berbagai perusahaan energi dan industri, es krim Dairy Queen, serta merek-merek legendaris seperti World Book Encyclopedia. Perusahaan ini juga memiliki aset bernilai ratusan miliar dolar yang terdiri dari saham maupun surat utang pemerintah AS (US Treasuries).
Pada kuartal kedua, laba operasionalnya naik 16 persen menjadi USD12,98 miliar, melampaui perkiraan analis. Laba bersih melonjak lebih dari dua kali lipat menjadi USD25,67 miliar, angka yang mencakup keuntungan dan kerugian yang belum direalisasi (unrealized gains and losses) dari saham-saham yang masih dimiliki oleh Berkshire—perusahaan yang berbasis di Omaha, Nebraska, tersebut.
Howard Buffet Jaga Budaya Berkshire
Berbeda dengan ayahnya, Howard Buffett—yang akrab disapa Howie—tidak akan memegang peran manajemen sebagai ketua dewan (chairman), dan tanggung jawab utamanya adalah menjaga budaya Berkshire.
Budaya tersebut mencakup kebebasan bagi unit-unit bisnis operasional Berkshire untuk mengelola urusan sehari-hari tanpa campur tangan manajemen puncak, meskipun Abel dipandang lebih proaktif dibandingkan Warren Buffett dalam menangani masalah kinerja yang kurang memuaskan.