IDXChannel - Saham-saham di Wall Street sebagian besar menguat pada pembukaan perdagangan, Jumat (6/11/2026), berbalik arah setelah nilai pasar saham global sempat anjlok hingga triliunan dolar Amerika Serikat (AS). Ini terjadi akibat kekhawatiran kemenangan Partai Demokrat dalam pemilihan umum minggu ini akan membawa regulasi yang lebih ketat bagi industri kecerdasan buatan (AI) di AS.
Dilansir dari Reuters, indeks acuan S&P 500 dan Nasdaq diperdagangkan lebih tinggi, didorong oleh kenaikan saham di sektor teknologi, layanan komunikasi, dan barang konsumsi non-primer (consumer discretionary). Sementara itu, indeks Dow mencatat sedikit penurunan.
Ketiga indeks tersebut tetap berada di jalur penurunan mingguan menyusul aksi jual tajam pada sesi sebelumnya.
Dow Jones Industrial Average turun 0,08 persen, S&P 500 naik 0,61 persen, dan Nasdaq Composite menguat 1,1 persen.
Indeks Semikonduktor Philadelphia naik 4 persen setelah sempat mengalami penurunan harian terdalam sejak April 2025. Saham Nvidia naik 4 persen, pulih setelah mencatatkan hari terburuknya sejak Januari 2025; periode di mana kemunculan model AI murah asal Tiongkok, DeepSeek, sempat mengguncang pasar.
Produsen chip besar lainnya, termasuk AMD, Intel, Broadcom, dan Micron Technology, mencatat kenaikan antara 2 persen hingga 10 persen. Saham Tesla dan SpaceX milik Elon Musk juga masing-masing naik 5 persen dan 7 persen, setelah sempat melemah di awal minggu ini.
"Sebagian besar gangguan terhadap pengembangan AI kemungkinan tidak akan benar-benar terjadi; ketidakpastian ini lebih disebabkan oleh transisi pemerintahan dari yang dipimpin Partai Republik ke Partai Demokrat tidak hanya di tingkat federal, tetapi juga di tingkat negara bagian dan lokal," ujar Presiden sekaligus Manajer Portofolio Sparrow Capital Management, Gerry Sparrow.
Pergerakan pasar ini sangat kontras dengan kondisi di belahan dunia lain. Indeks STOXX 600 di Eropa turun 1,36 persen. Di Asia, indeks Nikkei Jepang dan KOSPI Korea Selatan masing-masing anjlok sekitar 6 persen. Bagi Nikkei, seperti halnya Wall Street pada hari sebelumnya; ini merupakan penurunan harian terbesar sejak kepanikan pasar akibat kebijakan tarif perdagangan Liberation Day dari Presiden AS Donald Trump pada April 2025.
Indeks acuan Taiwan sempat anjlok lebih dari 8 persen, sebelum akhirnya mengurangi kerugian setelah otoritas setempat berupaya keras untuk meredam aksi jual.
Indeks MSCI All-World turun 0,28 persen, sementara indeks MSCI untuk saham Asia-Pasifik (di luar Jepang) melemah hampir 3 persen.
Sementara itu, harga minyak mentah Brent merangkak naik kembali mendekati USD100 per barel, namun tetap mencatatkan penurunan mingguan terbesar sejak tahun 2020, di tengah harapan hasil pemilihan paruh waktu (midterm elections) dapat mendorong Trump untuk meredakan ketegangan terkait perang dengan Iran.
Sedangkan harga emas spot turun 0,80 persen menjadi USD4.055,09.
(Dhera Arizona)