IDXChannel - Para investor akan mencermati laporan mengenai ketenagakerjaan dan inflasi pada pekan mendatang untuk menilai kemungkinan adanya kenaikan suku bunga yang lebih tajam, yang dapat menghambat reli pasar saham Amerika Serikat (AS).
Dilansir dari Reuters, Sabtu (26/9/2026), indeks-indeks saham utama bergerak di dekat rekor tertinggi pada Jumat, dengan S&P 500 berada kurang dari 1 persen di bawah puncak pertengahan Agustus, didorong oleh saham-saham teknologi dan perusahaan yang terkait dengan kecerdasan buatan (AI).
Laporan ketenagakerjaan bulanan, yang dijadwalkan rilis pada 2 Oktober 2026, akan menjadi sorotan utama bagi Wall Street. Indikator inflasi utama juga akan menjadi perhatian.
Investor sedang memantau implikasinya bagi Federal Reserve, yang mulai menaikkan suku bunga bulan ini untuk pertama kalinya dalam tiga tahun guna memerangi inflasi tinggi.
"Jika kita melihat gambaran besarnya dan apa yang penting bagi pasar saat ini, The Fed dan suku bunga adalah hal yang paling utama," ujar Chief Investment Officer Plante Moran Financial Advisors, Jim Baird.
"Kedua laporan tersebut akan sangat penting sebagai indikator mengenai bagaimana pandangan The Fed mungkin berkembang," katanya.
Selain itu, indeks saham menunjukkan ketahanan meskipun ada berbagai ancaman, terutama kenaikan berkelanjutan pada imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury), seiring berlanjutnya aksi jual karena investor menuntut imbal hasil lebih tinggi untuk memegang obligasi pemerintah.
Imbal hasil Treasury tenor 30 tahun pekan ini mencapai level tertinggi dalam lebih dari 20 tahun, dan imbal hasil acuan tenor 10 tahun naik jauh melampaui ambang batas 5 persen yang banyak dicermati.
"Melihat pergerakan di pasar pendapatan tetap (fixed-income) selama beberapa bulan terakhir, bukan tidak mungkin situasi bisa memburuk dengan cukup cepat," kata Kepala Strategi Pasar Miller Tabak, Matthew Maley.
Beberapa sektor di pasar saham mengalami kesulitan selama September, sehingga membuat investor waspada terhadap kemungkinan pelemahan yang lebih luas. Indeks S&P 500, yang sangat dipengaruhi oleh saham-saham dengan kapitalisasi pasar terbesar, sejauh ini tidak banyak berubah pada September dan tetap mencatat kenaikan sekitar 13 persen sepanjang 2026.
Namun, delapan dari 11 sektor S&P 500 berada di wilayah negatif sepanjang bulan ini, dengan sektor keuangan dan utilitas termasuk di antara yang turun sekitar 5 persen. Versi indeks dengan bobot setara (equal-weight) yang dianggap sebagai barometer bagi kinerja saham rata-rata, turun sekitar 4 persen pada September.
Sektor teknologi yang berbobot besar mencatat kenaikan bulan ini, termasuk saham-saham semikonduktor yang menjadi salah satu pemenang terbesar dari tren investasi kecerdasan buatan (AI). Produsen chip memori Micron Technology yang nilai pasarnya telah melonjak melampaui USD1 triliun, dijadwalkan akan melaporkan kinerja kuartalannya pada Rabu.
Lebih lanjut, laporan ketenagakerjaan (payrolls) untuk September diperkirakan akan menunjukkan penambahan 100 ribu lapangan kerja dan tingkat pengangguran sebesar 4,2 persen, menurut jajak pendapat Reuters terhadap para ekonom.
Laporan ketenagakerjaan yang sangat kuat pada bulan sebelumnya memperkuat ekspektasi Federal Reserve (The Fed) akan menaikkan suku bunga. Bank sentral tersebut menaikkan suku bunga sebesar seperempat poin persentase pada 16 September dan memberi sinyal akan kembali menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun.
Kenaikan suku bunga menghadirkan sejumlah tantangan bagi pasar saham. Kebijakan ini meningkatkan biaya pinjaman dan memperlambat laju ekonomi, sekaligus mendorong kenaikan imbal hasil obligasi yang menciptakan persaingan investasi lebih ketat bagi saham.
(Dhera Arizona)