IDXChannel - PT Barito Pacific Tbk (BRPT) mencatatkan laba bersih USD229 juta atau turun 60,65 persen pada sembilan bulan pertama 2026 dari periode yang sama tahun sebelumnya USD582 juta.
Di tengah penurunan laba, perseroan masih mengantongi kenaikan pendapatan 56,3 persen menjadi sebesar USD8,69 miliar dari periode sebelumnya USD5,5 miliar.
"Di tengah dinamika tersebut, portofolio Barito Pacific Group yang terdiversifikasi di sektor energi, kimia, dan infrastruktur terus menunjukkan ketahanan serta menopang pertumbuhan kinerja Grup secara keseluruhan," ujar Presiden Direktur Barito Pacific Agus Pangestu dalam keterbukaan informasi BEI, Jumat (30/10/2026).
Adapun pertumbuhan pendapatan terutama berasal dari peningkatan kinerja anak usaha perseroan, Chandra Asri Group. Kontribusi tersebut didukung oleh kinerja kilang yang kuat serta peningkatan pendapatan dari segmen infrastruktur.
Segmen energi terbarukan mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 9,6 persen secara tahunan menjadi USD501 juta hingga September 2026. Peningkatan tersebut didorong oleh kenaikan produksi listrik panas bumi setelah penambahan kapasitas melalui proyek retrofit serta output pembangkit listrik tenaga angin yang stabil.
Meski mencatatkan kinerja operasional yang kuat, BRPT menyebut perbandingan kinerja keuangan dengan periode yang sama tahun sebelumnya dipengaruhi oleh tingginya basis pembanding. Pada periode tersebut, perseroan mengakui keuntungan pembelian dengan harga murah (bargain purchase gain) dari akuisisi Aster.
Per 30 September 2026, total aset BRPT mencapai USD19,58 miliar, jumlah liabilitas USD12,94 miliar dengan total ekuitas mencapai USD6,6 miliar.
Agus menambahkan, perseroan akan melanjutkan ekspansi bisnis panas bumi. Penyelesaian proyek retrofit Darajat Unit 3 dengan tambahan kapasitas 8,55 megawatt (MW) pada Oktober 2026 meningkatkan total kapasitas terpasang panas bumi menjadi 935,55 MW.
"BRPT melanjutkan sejumlah proyek pertumbuhan strategis dengan tetap mengedepankan disiplin investasi dan pengelolaan risiko. Proyek Chlor-Alkali dan Ethylene Dichloride (CA-EDC) di Indonesia telah mencapai 80 persen penyelesaian konstruksi dan ditargetkan memasuki tahap commissioning pada 2027," tutur dia.
Di sektor energi terbarukan, perseroan menargetkan total kapasitas terpasang panas bumi meningkat menjadi lebih dari 1 gigawatt (GW) pada akhir 2026.
(DESI ANGRIANI)