Terkait pembayaran, Sasiarnon menyebut, 20 persen dari nilai transaksi akan dibayar secara tunai oleh NAYZ. Sementara 80 persen akan dialihkan sebagai setoran modal berupa inbreng melalui skema Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD).
Kesepakatan ini juga akan mematuhi aturan yang berlaku di pasar modal, mulai dari dipenuhinya persyaratan pendahuluan hingga persetujuan pemegang saham lewat Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB).
Saham NAYZ melesat tajam hingga perdagangan siang ini. Saham yang sebelumnya bergerak di bidang makanan bayi itu naik 34 persen ke Rp75.
Dalam penjelasan ke Bursa Efek Indonesia (BEI), NAYZ sempat mengungkapkan bahwa Bangkok Tellink akan menjadi fokus utama bisnis di bawah pengendali baru. Bangkok Tellink memiliki bisnis berbasis teknologi dengan model pendapatan berulang (recurring income) di sejumlah bidang.
Saiko bersama Bangkok Tellink memiliki pengalaman operasional di bidang telekomunikasi, MVNO Services, Internet of Things (IoT) platforms, sistem pembayaran digital, smart kiosk and vending solutions, hingga cloud-based infrastructure. Adapun CEO & Founder Bangkok Tellink saat ini adalah Nusttanakit Sasiarnon yang saat ini menjabat sebagai Direktur NAYZ.