Dengan demikian, perubahan yang terjadi adalah pada komposisi dan bobot saham pembentuk indeks, bukan pada level indeks itu sendiri.
Jeffrey mengatakan, saham-saham yang masuk kategori HSC memiliki bobot sekitar 18 persen dalam perhitungan IHSG. BEI juga telah melakukan pengujian historis atau backtest untuk mengukur dampak pengeluaran saham-saham tersebut.
"Kami sudah melakukan backtest, dengan pengeluaran saham-saham HSC, tidak akan mengakibatkan lonjakan, tetapi mengakibatkan IHSG kita yang lebih kredibel yang dapat digunakan lebih baik oleh para investor dalam melakukan tracking terhadap indeks kita," ujar Jeffrey dalam konferensi pers di Gedung BEI, Jakarta, Senin (26/10/2026).
Menurut Jeffrey, kebijakan tersebut bertujuan meningkatkan kredibilitas IHSG agar lebih mencerminkan pergerakan pasar saham secara wajar.
Konsentrasi kepemilikan yang tinggi pada saham tertentu dinilai berpotensi membuat pergerakan harga tidak sepenuhnya merepresentasikan kondisi pasar dan memengaruhi pembentukan indeks.