sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Saham BREN Naik 10 Persen, Tak Lagi Pengaruhi IHSG Mulai Hari Ini

Market news editor TIM RISET IDX CHANNEL
02/11/2026 09:36 WIB
Saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) justru melesat pada perdagangan Senin (2/11), tepat saat Bursa Efek Indonesia (BEI) mulai mengecualikan saham HSC.
Saham BREN Naik 10 Persen, Tak Lagi Pengaruhi IHSG Mulai Hari Ini. (Foto: BREN)
Saham BREN Naik 10 Persen, Tak Lagi Pengaruhi IHSG Mulai Hari Ini. (Foto: BREN)

IDXChannel – Saham emiten taipan Prajogo Pangestu PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) melesat pada perdagangan Senin (2/11/2026), tepat saat Bursa Efek Indonesia (BEI) mulai mengecualikan saham kategori High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan bobot Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Berdasarkan data BEI pukul 09.28 WIB, saham BREN melonjak 10,03 persen ke level Rp1.975 per unit.

Nilai transaksi tercatat Rp18,16 miliar dengan volume perdagangan mencapai 9,71 juta saham.

Kenaikan tersebut terjadi ketika BREN dan 80 saham HSC lainnya tidak lagi masuk dalam pembobotan IHSG.

Artinya, pergerakan harga BREN mulai hari ini tidak lagi memberikan kontribusi langsung terhadap naik-turunnya indeks utama pasar saham Indonesia.

Meski harga saham menguat tajam, secara tren BREN masih berada dalam kondisi strong bearish.

Perubahan tersebut merupakan bagian dari kebijakan BEI untuk meningkatkan kualitas dan transparansi indeks dengan mengecualikan saham-saham yang memiliki konsentrasi kepemilikan tinggi dari perhitungan IHSG.

Sebaliknya, keluarnya 81 saham HSC yang sebelumnya menyumbang sekitar 18 persen terhadap IHSG membuat bobot sejumlah saham berkapitalisasi besar, terutama perbankan, meningkat.

Berdasarkan estimasi BRI Danareksa Sekuritas pada Jumat (30/10/2026), bobot PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) naik dari 8,75 persen menjadi 9 persen.

Bobot PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) meningkat dari 7,93 persen menjadi 9 persen, sedangkan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) naik dari 5,57 persen menjadi 6,95 persen.

PT Astra International Tbk (ASII) juga diperkirakan mengalami kenaikan bobot dari 3,35 persen menjadi 4,15 persen.

Dengan demikian, bobot gabungan empat saham tersebut meningkat dari 24,33 persen menjadi 27,45 persen.

Lebih dari seperempat pergerakan IHSG kini semakin ditentukan oleh empat saham berkapitalisasi besar tersebut.

“IHSG kini jadi proxy bank. Sensitif terhadap rupiah dan foreign flow, yang saat ini sama-sama negatif,” tulis BRI Danareksa.

BRI Danareksa memperkirakan setiap perubahan 1 persen pada harga saham big four banks dapat memberikan dampak sekitar 14 poin terhadap IHSG dengan menggunakan basis indeks 5.030.

Artinya, setelah saham-saham HSC dikeluarkan, pergerakan IHSG justru semakin erat dengan arah sektor perbankan.

Tekanan terhadap rupiah dan arus dana asing menjadi semakin penting karena kedua faktor tersebut berpotensi langsung memengaruhi saham-saham dengan bobot besar di indeks.

Volatilitas IHSG Belum Tentu Turun

Keluarnya saham HSC dari perhitungan IHSG juga tidak otomatis membuat indeks menjadi lebih stabil.

Simulasi BRI Danareksa Sekuritas menunjukkan volatilitas IHSG tanpa saham HSC justru mencapai 31 persen, lebih tinggi dibandingkan volatilitas aktual sebesar 29 persen.

Perubahan komposisi indeks juga berpotensi menggeser rasio price to earnings (P/E) agregat IHSG. Karena itu, target IHSG yang menggunakan acuan valuasi historis perlu dikalibrasi kembali setelah perubahan komposisi berlaku.

Maybank Sekuritas dalam catatan 26 Oktober 2026 menilai saham perbankan berkapitalisasi besar dan telekomunikasi menjadi pihak yang paling diuntungkan dari perubahan bobot tersebut.

“Sebaliknya, pergerakan saham HSC seperti BREN, DSSA, DCII dan BYAN tidak lagi memengaruhi IHSG. Perlu dicatat kenaikan bobot tidak otomatis diikuti kenaikan harga, namun arah IHSG ke depan akan semakin ditentukan oleh saham perbankan,” tulis Maybank Sekuritas.

Kinerja BREN dan Sanksi OJK

Di tengah perubahan tersebut, BREN sebelumnya mencatatkan kinerja keuangan yang masih tumbuh.

Perseroan membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar USD132,82 juta hingga kuartal III-2026, naik 24,6 persen dibandingkan USD106,55 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan laba ditopang oleh peningkatan laba operasional serta penurunan beban keuangan. Pendapatan konsolidasian BREN mencapai USD501 juta, meningkat 9,5 persen dibandingkan USD457 juta pada periode yang sama tahun lalu.

Di sisi lain, BREN menjadi salah satu emiten yang terkait dengan penegakan hukum pasar modal oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), bersama PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN).

OJK telah menetapkan sanksi terhadap pihak-pihak yang dinilai melanggar ketentuan pasar modal terkait ketiga emiten tersebut. Surat sanksi diserahkan secara langsung oleh Deputi Komisioner Pengawas Emiten, Transaksi Efek, Pemeriksaan Khusus, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK, Khoirul Muttaqien.

Prosesi tersebut turut dihadiri Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Badan Reserse Kriminal Polri, Kombes Pol Suhasto, sebagai bagian dari koordinasi OJK dan Polri dalam penegakan hukum, khususnya terkait tindak pidana di bidang pasar modal.

Dalam kasus penawaran umum perdana saham (IPO) BREN, sanksi administratif dikenakan kepada AH Ltd berupa denda Rp500 miliar. Sanksi tersebut berkaitan dengan pelanggaran ketentuan mengenai pengaburan informasi pihak yang melakukan pemesanan saham BREN sebagaimana diatur dalam Pasal 107 UUPM yang telah diubah dengan Pasal 22 angka 48 UUPPSK.

Sementara itu, investor pekan ini juga akan mencermati sejumlah data ekonomi domestik, mulai dari inflasi Oktober, aktivitas manufaktur, neraca perdagangan, pertumbuhan ekonomi kuartal III-2026, hingga cadangan devisa.

Dari eksternal, arah kebijakan The Fed setelah keputusan suku bunga terakhir, pergerakan harga minyak, serta perkembangan tensi geopolitik akan menjadi katalis penting bagi rupiah dan arus modal asing. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Halaman : 1 2 3 4 5 6 7
Advertisement
Advertisement