Efektivitas kebijakan tersebut perlu dinilai berdasarkan data aktual mengenai harga minyak, realisasi subsidi dan kompensasi energi, serta kondisi fiskal pemerintah. Kecukupan stok BBM berkaitan dengan ketahanan pasokan, sedangkan keberlanjutan subsidi berkaitan dengan kemampuan fiskal negara. Keduanya saling berhubungan, tetapi tidak dapat disamakan.
Selain itu, kekhawatiran inflasi di tengah tingginya harga pangan merupakan persoalan ekonomi yang perlu mendapat perhatian karena berkaitan langsung dengan daya beli masyarakat, stabilitas harga, dan pertumbuhan ekonomi.
Secara ekonomi, kenaikan harga pangan dapat mendorong inflasi dari sisi penawaran (cost-push inflation), khususnya apabila kenaikan tersebut disebabkan oleh gangguan produksi, perubahan cuaca, distribusi yang tidak lancar, atau meningkatnya biaya transportasi dan pupuk.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp18.150-Rp18.200 per USD.
(NIA DEVIYANA)