Dalam laporan terbarunya, IMF menyoroti dua kekuatan transformatif yang memengaruhi perekonomian global, yakni geopolitik dan teknologi. Dampak ketegangan geopolitik terhadap setiap negara dinilai berbeda, bergantung pada kedekatan geografis dengan wilayah konflik serta sensitivitas perekonomian terhadap fluktuasi harga komoditas.
Di sisi lain, kemampuan negara dalam memanfaatkan perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) juga menjadi faktor yang memengaruhi prospek pertumbuhan ekonomi.
Pemerintah Indonesia sendiri menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4 persen sepanjang 2026. Sebelumnya, Suahasil Nazara menyebut pertumbuhan ekonomi di atas 5,5 persen pada kuartal III dan kuartal IV 2026 masih berpeluang tercapai.
Pada semester I-2026, ekonomi Indonesia tumbuh 5,45 persen. Pertumbuhan pada kuartal I-2026 tercatat sebesar 5,61 persen.
Sementara itu, IMF memperkirakan defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) Indonesia melebar menjadi 1,6 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) pada 2026, dari 0,1 persen pada 2025.