IDXChannel - Sejumlah emiten perbankan besar dijadwalkan merilis kinerja kuartal III-2026 pada Oktober 2026.
Di tengah musim laporan keuangan tersebut, BRI Danareksa Sekuritas menyoroti kondisi likuiditas industri perbankan yang semakin ketat dan berpotensi menekan kinerja laba pada paruh kedua tahun ini.
Berdasarkan catatan BRI Danareksa Sekuritas, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dijadwalkan menyampaikan kinerja kuartal III-2026 pada 20 Oktober 2026.
Selanjutnya, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) pada 23 Oktober, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) pada 27 Oktober, dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) pada 29 Oktober.
Pada 30 Oktober 2026, giliran PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN), dan PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) yang dijadwalkan merilis kinerja kuartal III.
BRI Danareksa menyebut jadwal tersebut berdasarkan kalender Bloomberg per 28 September 2026 dan masih dapat berubah.
Di sisi fundamental, BRI Danareksa mengangkat tema “Likuiditas Makin Ketat” dengan pandangan bahwa laba perbankan pada paruh kedua 2026 berpotensi melunak.
Salah satu indikasinya terlihat dari IndONIA yang berada di atas BI-Rate, meskipun Saldo Anggaran Lebih (SAL) pemerintah masih berada di perbankan BUMN.
Sementara itu, tingkat bunga deposito satu bulan telah mencapai sekitar 4,2 persen, atau level tertinggi dalam tiga tahun.
Kondisi tersebut turut tercermin dari biaya dana (cost of funds) industri perbankan yang mencapai 2,8 persen pada Juli 2026.
BRI Danareksa mencatat funding gap industri perbankan mencapai Rp591 triliun pada Juni 2026.
Pada saat yang sama, penarikan SAL secara penuh meningkat dari Rp299 triliun menjadi Rp890 triliun, dengan rasio kredit terhadap dana pihak ketiga atau Loan to Deposit Ratio (LDR) mencapai 92 persen.
Meski demikian, terdapat perkembangan yang dapat meredakan salah satu risiko di sektor perbankan. Kementerian Keuangan telah membayar cicilan pertama pinjaman Agrinas dan Koperasi Desa Merah Putih sebesar Rp37,7 triliun.
Dari jumlah tersebut, BBRI menerima Rp11,9 triliun. Menurut BRI Danareksa, pembayaran tersebut mengurangi risiko reklasifikasi kredit menjadi special mention.
Dari sisi laba, BRI Danareksa memproyeksikan laba sektor perbankan pada 2026 tumbuh 4 persen secara tahunan, melambat dibandingkan pertumbuhan 11 persen pada semester I 2026. Di luar BBRI, laba perbankan pada paruh kedua 2026 diperkirakan turun sekitar 3 persen secara tahunan.
Sementara itu, tekanan juga terlihat dari pergerakan investor asing. BRI Danareksa mencatat investor asing telah melakukan penjualan sekitar Rp1,9 triliun pada empat bank besar, yang mencakup sekitar 60 persen dari total arus keluar asing pada sepekan terakhir. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.