sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Platform Infrastruktur AI Baru ISAT Dinilai Berpotensi Dongkrak Laba, Risiko Oversupply Mengintai

Market news editor TIM RISET IDX CHANNEL
11/08/2026 10:24 WIB
Langkah PT Indosat Tbk (ISAT) masuk ke bisnis infrastruktur kecerdasan buatan (AI) berpotensi menjadi katalis baru bagi kinerja perseroan.
Platform Infrastruktur AI Baru ISAT Dinilai Berpotensi Dongkrak Laba, Risiko Oversupply Mengintai. (Foto: IOH)
Platform Infrastruktur AI Baru ISAT Dinilai Berpotensi Dongkrak Laba, Risiko Oversupply Mengintai. (Foto: IOH)

IDXChannel - Langkah PT Indosat Tbk (ISAT) masuk ke bisnis infrastruktur kecerdasan buatan (AI) berpotensi menjadi katalis baru bagi kinerja perseroan, tetapi juga membawa risiko besar jika kapasitas yang dibangun tidak terserap pasar.

JPMorgan menilai platform infrastruktur AI baru Indosat dapat memberikan tambahan laba per saham (EPS) dua digit dalam skenario bullish. Namun, oversupply infrastruktur AI dan tekanan harga dapat berujung pada penurunan nilai bagi pemegang saham.

Dalam riset bertanggal 7 Agustus 2026, analis JPMorgan Ranjan Sharma dan tim mempertahankan rekomendasi overweight untuk ISAT dengan target harga Juni 2027 sebesar Rp3.200 per unit.

Rekomendasi tersebut diberikan setelah saham ISAT melonjak 14 persen pada saat pengumuman kerja sama pembangunan platform infrastruktur AI baru, Jumat (7/8/2026) pekan lalu, jauh mengungguli kenaikan Jakarta Composite Index (JCI) sebesar 1 persen di hari yang sama.

Kinerja terbaru, pada Selasa (11/8), pukul 10.07 WIB, saham ISAT menguat 3,81 persen ke Rp2.180 per unit. Dalam sepekan, saham telekomunikasi ini meningkat 14,44 persen dan dalam sebulan melonjak 19,78 persen.

Platform tersebut, yang diberi nama Zankore, dikembangkan Indosat bersama Ooredoo Group, Nokia, dan NVIDIA. Zankore ditargetkan menjadi platform infrastruktur AI berskala regional, dengan kapasitas awal sekitar 200 megawatt (MW) pada semester I-2027 menggunakan server NVIDIA GB300 NVL72. Dalam jangka panjang, kapasitasnya ditargetkan mencapai 1 gigawatt (GW).

Menurut laporan JPMorgan, Ooredoo akan memiliki sekitar 49 persen saham Zankore dan berkomitmen menginvestasikan USD800 juta untuk peluncuran dan pengembangan platform tersebut.

Tantangan Terbesar

Meski prospeknya besar, JPMorgan menyoroti sejumlah ketidakpastian yang perlu diperhatikan investor, terutama terkait kebutuhan pendanaan dan tingkat utilisasi infrastruktur AI.

Sebagai pembanding, Indosat menyebut belanja modal sekitar USD650 juta diperlukan untuk membangun infrastruktur komputasi berkapasitas 22 MW menggunakan teknologi NVIDIA.

Jika biaya tersebut digunakan sebagai acuan, pembangunan kapasitas 200 MW dapat membutuhkan investasi sekitar USD5,5 miliar-USD6 miliar.

Besarnya kebutuhan modal tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai bagaimana Zankore akan dibiayai.

JPMorgan memperkirakan, jika Indosat harus memberikan komitmen ekuitas awal sekitar USD1,6 miliar, rasio utang terhadap ekuitas Zankore dapat mencapai sekitar 2,4-2,5 kali.

Kebutuhan pendanaan juga berpotensi meningkat setelah Indosat melakukan investasi pada bisnis jaringan serat optik dan 5G.

Perseroan kemungkinan perlu menambah utang atau menjual piutang dari kontrak layanan cloud untuk memperoleh dana yang dibutuhkan Zankore.

Di sisi lain, permintaan menjadi tanda tanya terbesar.

JPMorgan menilai pembangunan pusat data dan infrastruktur komputasi AI di Asia Tenggara, khususnya Malaysia dan Thailand, sudah berlangsung cukup agresif.

Karena itu, belum jelas mengapa pelanggan AI dalam jumlah besar akan memilih kapasitas dari Indonesia, terutama ketika harga layanan neocloud domestik Indosat juga menunjukkan tren kenaikan.

Selain itu, investasi infrastruktur AI di Indonesia mulai meningkat signifikan.

Sejumlah perusahaan seperti Firmus dan CoreWeave juga telah mengumumkan investasi baru, sehingga risiko kelebihan kapasitas atau oversupply semakin perlu diperhatikan.

Skenario Bullish

Dalam skenario bullish, JPMorgan memperkirakan Zankore dapat memberikan kontribusi positif yang signifikan terhadap laba Indosat.

Asumsinya, Zankore mampu menghasilkan pendapatan per MW yang setara dengan bisnis neocloud Indosat saat ini, memiliki margin EBITDA yang serupa, serta mampu memperoleh sekitar USD4 miliar utang dengan basis ekuitas sekitar USD1,6 miliar.

Dengan asumsi Indosat memiliki 15 persen kepemilikan di Zankore, JPMorgan memperkirakan proyek tersebut dapat memberikan akresi sekitar 20 persen terhadap EPS Indosat pada 2027.

Tingkat pengembalian investasi (IRR) tanpa leverage juga diperkirakan dapat mencapai lebih dari 20 persen, sehingga proyek tersebut berpotensi memberikan nilai tambah yang cukup besar bagi pemegang saham apabila target utilisasi dan pendapatan dapat tercapai.

Skenario Bearish Tak Kalah Berisiko

Di sisi lain, JPMorgan melihat risiko jika tingkat utilisasi Zankore rendah atau harga mengalami tekanan. Kondisi tersebut dapat menurunkan tingkat pengembalian investasi sekaligus menekan kinerja laba Indosat.

JPMorgan menilai, jika bisnis infrastruktur AI mampu menghasilkan IRR di atas 20 persen, modal yang masuk ke sektor ini kemungkinan akan semakin besar.

Hal tersebut berpotensi mendorong pembangunan kapasitas AI baru, sementara proyek-proyek berskala besar sudah mulai bermunculan di Indonesia dan kawasan Asia Tenggara.

Akibatnya, Zankore menghadapi risiko kesulitan mendapatkan permintaan yang cukup atau mempertahankan harga GPU pada level saat ini.

Jika hal itu terjadi, tingkat pengembalian investasi dapat lebih rendah dari perkiraan dan kontribusinya terhadap nilai pemegang saham serta laba ISAT menjadi kurang optimal. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Halaman : 1 2 3 4 5 6
Advertisement
Advertisement