Harga nikel di London Metal Exchange (LME) kembali turun 5 persen secara bulanan menjadi sekitar USD15.300 per ton. Harga bijih nikel saprolit kadar 1,6 persen juga turun 9 persen dan kini sedikit berada di bawah harga patokan mineral (HPM).
Pelemahan permintaan, khususnya dari sektor kendaraan listrik (electric vehicle/EV), turut menekan harga produk turunan nikel.
Harga mixed hydroxide precipitate (MHP) dan nikel sulfat masing-masing terkoreksi 7 persen dan 5 persen sepanjang Oktober.
Menariknya, koreksi harga tersebut terjadi ketika produksi MHP Indonesia justru mengalami penurunan secara tahunan.
Ke depan, harga nikel berpotensi kembali menguat apabila pemerintah memangkas kuota Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) untuk 2027 dibandingkan kuota sekitar 300 juta ton pada 2026 setelah persetujuan.