IDXChannel—PT Bursa Efek Indonesia (BEI) meresmikan empat inisiatif strategis untuk memperkuat kesiapan dan kualitas calon perusahaan publik, sejalan dengan keinginan untuk mempersiapkan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal untuk siap melantai di bursa efek.
Empat inisiatif strategis ini dicanangkan untuk meningkatkan kualitas dan kesiapan calon perusahaan publik di Indonesia agar memiliki tata kelola dan prinsip keberlanjutan yang matang.
Bursa Efek Indonesia memberikan penekanan pada penerapan standar tata kelola serta prinsip keberlanjutan Environmental, Social, and Governance (ESG).
"Kesiapan untuk menjadi perusahaan publik bukan hanya soal pendapatan atau aset, melainkan juga legalitas, tata kelola, manajemen risiko, transparansi, serta kesiapan menghadapi tuntutan keberlanjutan, termasuk ESG dan dekarbonisasi,” ujar Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik di acara RISE to IPO, Senin (2/11/2026).
Untuk memastikan kesiapan tersebut, pada inisiatif kedua BEI menjalin kemitraan dengan PT Surveyor Indonesia (Persero). Kerja sama ini berfokus pada verifikasi, validasi, serta peningkatan kualitas informasi keuangan dan nonkeuangan bagi perusahaan yang bersiap Go Public.
Inisiatif lainnya mencakup kerja sama dengan Kementerian UMKM melalui kelanjutan program Rise to IPO, serta peluncuran National Go Public Academy for SME untuk membantu perusahaan membangun model bisnis yang andal dan berkelanjutan.
Sebagai penutup dari empat langkah strategis tersebut, BEI juga fokus pada penguatan nilai tambah bagi emiten yang sudah terdaftar di bursa.
"Keempat, penguatan manfaat sebagai perusahaan tercatat melalui kajian akademis, analisis desain insentif untuk perusahaan tercatat di Indonesia," pungkas Jeffrey.
Melalui seluruh rangkaian inisiatif ini, BEI berharap dapat merangkul lebih banyak perusahaan untuk mengenal pasar modal dan mempersiapkan diri sesuai dengan tahap pertumbuhan bisnis masing-masing.
Sebelumnya, BEI baru saja meluncurkan National Go Public Academy for Small and Medium Enterprises (SME) pada acara RISE to IPO yang diadakan di Bursa Efek Indonesia di Jakarta. Program ini merupakan pembinaan berjenjang yang dirancang untuk mendampingi pelaku UMKM dari tahap penguatan tata kelola hingga siap melantai di bursa.
"Program ini disusun sebagai perjalanan pembinaan berjenjang, mulai dari penguatan fundamental bisnis, tata kelola, kualitas, dan transparansi hingga pemahaman proses IPO serta tanggung jawab sebagai perusahaan publik,” tutur Jeffrey.
Keterbatasan akses pembiayaan masih menjadi kendala utama bagi para pelaku usaha dalam memperluas skala bisnisnya. Padahal, sektor ini merupakan motor utama penggerak roda ekonomi daerah sekaligus penyedia lapangan kerja bagi masyarakat.
Menjawab tantangan tersebut, BEI bersama para pemangku kepentingan berkomitmen untuk membuka pintu pasar modal sebagai alternatif pembiayaan jangka panjang.
Jeffrey menegaskan bahwa pemahaman akan alternatif pembiayaan sangat krusial seiring perkembangan bisnis. Pasar modal Indonesia yang kini didukung oleh 33,4 juta investor dan 962 perusahaan tercatat dinilai memiliki potensi besar untuk menopang kebutuhan dana dunia usaha.
(Birru Aisyah)