“Kami memperkirakan NPATMI TUGU dapat tumbuh dengan laju tahunan sekitar 10 persen, terutama ditopang peningkatan investasi di sektor minyak dan gas Indonesia,” ujar Kharel dikutip dalam riset Jumat (25/9/2026).
Prospek tersebut sejalan dengan posisi TUGU yang memiliki eksposur kuat terhadap industri energi. Meningkatnya pipeline investasi hulu migas, termasuk proyek-proyek besar seperti Masela, dinilai dapat membuka ruang pertumbuhan bisnis ke depan. Sebagai informasi, total investasi proyek Masela disebut berpotensi mencapai sekitar Rp350 triliun.
Selain pertumbuhan laba, kualitas profitabilitas TUGU juga diproyeksikan membaik. Return on equity (ROE) diperkirakan meningkat dari 7,7 persen pada 2025 menjadi 9,0 persen pada 2028. Laba usaha juga diproyeksikan meningkat dari Rp649 miliar pada 2025 menjadi Rp915 miliar pada 2028.
Di sisi operasional, rasio klaim dan biaya TUGU diperkirakan relatif terjaga ke depan, didukung disiplin underwriting dan pengelolaan biaya. Insurance revenue diproyeksikan tumbuh dari Rp9,1 triliun pada 2025 menjadi Rp11,5 triliun pada 2028.
Menariknya, prospek pertumbuhan tersebut belum sepenuhnya tercermin dalam valuasi saham. Berdasarkan perbandingan Trimegah, TUGU diperdagangkan pada sekitar 0,5 kali price-to-book value (PBV) 2026, jauh di bawah rata-rata perusahaan asuransi umum domestik yang menjadi pembanding di sekitar 1,3 kali PBV.