Kondisi tersebut berdampak pada kepercayaan masyarakat untuk melakukan perjalanan internasional serta mengubah pola permintaan perjalanan wisata pada sejumlah periode penting, termasuk musim libur Lebaran pada Maret dan awal musim libur sekolah pada Juni-Juli.
Tekanan juga berasal dari kenaikan harga energi, termasuk bahan bakar penerbangan atau avtur. Kenaikan harga energi meningkatkan biaya operasional maskapai di berbagai negara dan turut menekan industri perjalanan serta pariwisata global.
Meski menghadapi berbagai tekanan, PANR memperkirakan kondisi bisnis akan membaik pada semester II-2026 seiring meredanya ketegangan geopolitik dan meningkatnya minat masyarakat untuk berlibur.
Perseroan juga melihat peluang dari peluncuran sejumlah destinasi wisata internasional baru yang diharapkan dapat mendorong permintaan perjalanan.
“Fokus kami pada semester II adalah menangkap momentum pemulihan pasar leisure. Selain menghadirkan lebih banyak pilihan destinasi yang menarik, kami juga terus berinvestasi pada kualitas layanan sehingga pengalaman pelanggan tetap menjadi prioritas utama,” ujar Sadewa.