Bursa masih menggunakan papan tulis untuk memasukkan data Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), harga jual dan beli saham, yang ditulis menggunakan spidol. Bahkan masih menggunakan teropong untuk melihat harga jual saham karena keterbatasan komputer saat itu.
Semua transaksi saham pun masih dalam bentuk fisik. Jumlah emiten juga masih sedikit. Katanya, mereka pun tak setransparan sekarang.
Alhasil, mendapatkan bahan berita pun harus pintar-pintar mencarinya. Data yang didapat di lantai Bursa harus disertai dengan penjelasan narasumber, baru berita itu bisa layak tayang.
"Dulu enggak ada rilis, harus wawancara. Kalau sekarang ada rilis, keterbukaan informasi. Dulu harus cari, tanya ke Bapepam, Bursa, harus ada quote narsum," ujarnya.
Dari manualisasi, dia baru merasakan kemudahan ketika sistem otomasi perdagangan, Jakarta Automated Trading System (JATS) lahir pada 1995, setelah gedung Bursa pindah ke kawasan elit SCBD. Kemudian digitalisasi pasar modal terus meningkat, dengan hadirnya Sistem Perdagangan Tanpa Warkat pada 2000.