Bahkan, juga 'mencuri ilmu' dari para broker, yang saat itu jumlahnya pun tak bisa dibilang banyak. Dalam perjalanannya, pemahamannya terhadap pasar modal membuat dia menjadi investor saham.
Sementara ketika menjalani profesi kewartawanannya, dia menggunakan motor Vespa yang dibelinya seharga Rp400 ribu, dengan gaji Rp750 ribu sebulan. Dia menyambangi gedung Bursa saban hari kerja, yang saat itu masih bernama Bursa Efek Jakarta (BEJ) di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta.
Ini merupakan gedung pertama bursa hasil kesepakatan dengan Danareksa Jakarta Internasional. Di gedung itu, ada beberapa kantor broker. Tak jauh dari sana, berdiri Gedung Badan Pelaksana Pasar Modal (Bapepam).
Dia datang sebelum jam perdagangan Bursa dibuka pukul 10.00 WIB hingga closing pada 15.00 WIB. Tapi biasanya, dia berada di sana hingga pukul 17.00 WIB untuk mencari informasi lebih banyak sebelum kembali ke kantor untuk menulisnya.
"Dulu nulis berita masih diketik, enggak ada press room, biasanya kita di ruangan broker. Saya datang (ke BEJ) pagi sampai jam 5 (17.00), baru ke kantor. Di kantor kerja biasanya sampai jam 10 (22.00)," ujar ayah tiga anak ini.
Dia menuturkan, untuk mendapatkan informasi pada era 80-an pun tak semudah era digital. Kala itu, teknologi tak secanggih sekarang, belum ada digitalisasi, masih serba manualisasi.