Sementara itu, belanja mencapai Rp2.295,7 triliun. Dengan demikian, defisit mencapai Rp240,1 triliun atau 0,9 persen. APBN tetap kuat dengan keseimbangan primer positif (Rp154 triliun) dan defisit dalam batasan terkendali.
Secara keseluruhan tahun, pemerintah memperkirakan defisit APBN hingga akhir tahun 2026 akan berada di sekitar 2,85 persen dari PDB (atau setara Rp734,3 triliun), sedikit di atas target awal APBN yang sebesar 2,68 persen PDB.
Selain itu, kenaikan harga minyak mentah dunia akibat memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah dan Eropa Timur dan fenomena El Nino pada tahun 2026 kembali menjadi perhatian pasar. Kondisi panas dan kering yang berlangsung disejumlah wilayah indonesia meningkatkan risiko terhadap sektor pertanian, ketersediaan air, hingga kebakaran hutan dan lahan.
Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) juga terus mengingatkan mengenai kondisi kemarau dan potensi kekeringan di berbagai wilayah sampai akhir 2026.
“Persoalannya El Nino bukan hanya tentang perubahan cuaca. Jika tidak diantisipasi dengan baik, fenomena ini dapat memberikan tekanan baru terhadap perekonomian Indonesia terutama melalui jalur pangan dan Inflasi,” ujar