Penyesuaian bobot saham pada MSCI serta potensi koreksi di sektor AI global dipandang dapat menjadi stimulus masuknya arus modal.
“Tetapi kalau ada dua katalis yakni MSCI dan koreksi dari pasar AI, kemungkinan akan lebih positif sampai juga ke 6.800,” jelasnya.
Selain IHSG, Stefanus turut memberikan pandangannya terkait pergerakan nilai tukar rupiah terhadap Dolar AS.
Dalam jangka panjang, ia menilai tren tekanan pada mata uang Garuda masih berpotensi berlanjut.
Mata uang rupiah yang sebelumnya bergerak di kisaran Rp15.900 per dolar AS diperkirakan berisiko melemah lebih dalam hingga menyentuh level terendah baru.