"Nah tentu faktor sentimental, ini kita berharap para investor paham mana yang sentimental, mana yang fundamental, dan mana yang diberikan oleh rating agency yang lain," ujarnya.
Di sisi lain, Airlangga turut mempertanyakan sikap Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang mempertimbangkan penurunan status pasar saham Indonesia dari kategori emerging market menjadi standalone market.
Dia menilai, langkah MSCI tersebut menimbulkan pertanyaan, terlebih lembaga pemeringkat lainnya tidak mempermasalahkan kondisi pasar saham Indonesia sebagaimana yang disoroti MSCI.
"Kenapa rating agency yang lain tidak mempersoalkan hal ini, dan kenapa MSCI secara sistematik selalu membuka atau membuat deadline apalagi kemarin yang ketemu di Bangkok kan pimpinannya bukan analisnya," kata dia.
Airlangga juga mengaku heran lantaran isu penurunan status pasar saham Indonesia tidak dibahas dalam pertemuan antara sejumlah pemangku kepentingan sektor keuangan Indonesia dan MSCI di Bangkok, Thailand, beberapa waktu lalu.