sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Harga Minyak Melonjak 4 Persen usai China Setop Ekspor BBM, AS Kirim Pasukan ke Timur Tengah

Market news editor TIM RISET IDX CHANNEL
02/10/2026 06:32 WIB
Harga minyak dunia melonjak pada perdagangan Kamis (1/10/2026).
Harga Minyak Melonjak 4 Persen usai China Setop Ekspor BBM, AS Kirim Pasukan ke Timur Tengah. (Foto: Magnific)
Harga Minyak Melonjak 4 Persen usai China Setop Ekspor BBM, AS Kirim Pasukan ke Timur Tengah. (Foto: Magnific)

IDXChannel - Harga minyak dunia melonjak pada perdagangan Kamis (1/10/2026), setelah laporan mengenai pengiriman tambahan pasukan dan kapal induk Amerika Serikat (AS) ke Timur Tengah memicu kekhawatiran konflik semakin meluas.

Sentimen juga diperkuat oleh keputusan China yang menangguhkan ekspor produk minyak, sehingga meningkatkan risiko kelangkaan bahan bakar global.

Kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk pengiriman Desember 2026 ditutup melesat 4,37 persen menjadi USD102,31 per barel.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS meningkat 2,71 persen ke level USD92,87 per barel.

Mengutip laporan Wall Street Journal, AS mengirim kapal induk ketiga serta hingga 10.000 tambahan pasukan ke Timur Tengah ketika Presiden Donald Trump mempertimbangkan kembali kemungkinan melancarkan serangan terhadap Iran setelah pemilu sela AS.

Trump mengatakan kepada wartawan di Gedung Putih sebelum melakukan perjalanan kampanye bahwa dirinya masih mempertimbangkan sejumlah opsi terkait Iran.

"Sekarang saya harus mengambil keputusan. Mereka akan menandatangani kesepakatan yang sangat adil, atau mereka tidak akan ada lagi," ujar Trump.

Pernyataan tersebut, ditambah keputusan China menghentikan ekspor bahan bakar, memicu perdagangan minyak yang bergejolak.

Harga minyak sempat turun sekitar 1 persen pada awal perdagangan, tetapi kemudian berbalik naik setelah Reuters melaporkan bahwa penyuling minyak China menghentikan ekspor produk minyak ke luar Hong Kong dan Makau hingga pemberitahuan lebih lanjut.

Analis UBS Giovanni Staunovo mengatakan, seperti dikutip Reuters, larangan ekspor dari China menunjukkan adanya kekhawatiran terhadap ketersediaan produk minyak di dalam negeri.

Namun, menurut dia, masih perlu dilihat apakah kebijakan tersebut akan mendorong peningkatan impor minyak mentah setelah stok minyak mentah dan bahan bakar China sebelumnya mengalami penurunan.

Meskipun pasokan minyak mentah masih mengalir ke pasar, ketersediaan diesel dan produk olahan minyak lainnya tetap terbatas akibat kerusakan infrastruktur kilang di kawasan Teluk serta Rusia.

Persediaan diesel global juga sudah berada dalam kondisi ketat setelah Rusia, salah satu eksportir utama bahan bakar tersebut, memperpanjang larangan ekspor hingga Oktober.

Pelaku industri memperkirakan tekanan pasokan diesel belum akan berakhir hingga tahun depan.

Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan negaranya tidak akan memasok diesel ke pasar energi global sampai sanksi terhadap Moskow dicabut.

"Dampak pembatasan ekspor bahan bakar China tidak akan sebesar hilangnya pasokan produk minyak olahan dari Rusia dan Timur Tengah. Namun, kebijakan ini menjadi sumber tekanan tambahan terhadap pasar bahan bakar global ketika pasokan sedang sangat terbatas," ujar ekonom senior iklim dan komoditas di Capital Economics, Hamad Hussain.

Untuk meredakan tekanan pasar, gugus tugas energi Uni Eropa dijadwalkan bertemu pada Jumat untuk membahas kemungkinan pelepasan cadangan diesel.

Sementara itu, sumber Reuters menyebut pemerintahan Trump meminta Jerman dan Prancis untuk mengurangi cadangan diesel darurat mereka atau menghadapi kemungkinan larangan ekspor diesel dari AS. (Aldo Fernando)

Halaman : 1 2 3 4
Advertisement
Advertisement