IDXChannel – Harga emas jatuh hampir 4 persen pada perdagangan Senin (28/9/2026) ke level terendah lebih dari tujuh pekan.
Tekanan datang dari kenaikan harga minyak yang memicu kekhawatiran inflasi dan memperkuat ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat.
Sementara penguatan dolar AS dan imbal hasil US Treasury turut menekan harga emas.
Harga emas spot turun 3,97 persen menjadi USD4.114,98 per troy ons, setelah sempat menyentuh USD4.110,55 per troy ons. Level tersebut merupakan yang terendah sejak 5 Agustus 2026.
“Kenaikan tajam harga minyak mentah menunjukkan tekanan inflasi masih menjadi persoalan. Kondisi ini mengarah pada ekspektasi kebijakan moneter Federal Reserve yang lebih ketat,” kata analis pasar American Gold Exchange, Jim Wyckoff, seperti dikutip Reuters.
Menurut Wyckoff, kenaikan imbal hasil US Treasury dan dolar AS yang berada di sekitar level tertinggi dalam beberapa pekan menciptakan tekanan besar bagi harga logam mulia.
Dolar AS bertahan di dekat level tertinggi dalam dua bulan. Kondisi tersebut membuat emas yang dihargai dalam dolar menjadi lebih mahal bagi pembeli di luar AS.
Pada saat yang sama, imbal hasil US Treasury kembali meningkat sehingga menaikkan biaya peluang untuk memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Harga minyak naik sekitar 3 persen setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menolak kesepakatan damai dari Iran untuk menyelesaikan konflik kedua negara sekaligus membuka kembali Selat Hormuz.
Kenaikan harga minyak berpotensi mendorong inflasi sehingga bank sentral dapat mempertahankan suku bunga pada level tinggi lebih lama.
Kondisi ini menjadi tekanan bagi emas, meskipun logam mulia secara tradisional dipandang sebagai lindung nilai terhadap inflasi.
Suku bunga yang lebih tinggi membuat emas menjadi kurang menarik karena investor dapat memilih aset yang memberikan imbal hasil.
Pelaku pasar kini melihat peluang sekitar 94 persen untuk kenaikan suku bunga pada Desember, berdasarkan CME FedWatch Tool.
The Fed menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin pada awal September dan mengisyaratkan bahwa kenaikan suku bunga lanjutan masih mungkin dilakukan dalam beberapa bulan mendatang.
Sejalan dengan sikap hawkish The Fed, sejumlah pejabat bank sentral AS memperingatkan bahwa risiko inflasi masih tinggi dan suku bunga mungkin perlu dinaikkan lebih lanjut.
Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland, Beth Hammack, menjadi salah satu pejabat terbaru yang kembali menyampaikan pandangan tersebut.
Perhatian pasar selanjutnya tertuju pada sejumlah data ekonomi Amerika Serikat yang dijadwalkan dirilis pekan ini, termasuk lowongan pekerjaan, laporan ketenagakerjaan ADP, data Personal Consumption Expenditures (PCE), serta laporan nonfarm payrolls (NFP). (Aldo Fernando)