IDXChannel - Harga minyak sawit mentah (CPO) berjangka turun lebih dari 2 persen pada perdagangan Jumat (25/9/2026), dan berpotensi membukukan penurunan mingguan.
Tekanan datang dari ekspektasi kenaikan produksi serta lemahnya ekspor yang memicu kekhawatiran terhadap peningkatan persediaan.
Kontrak CPO untuk pengiriman Desember di Bursa Malaysia Derivatives turun 2,22 persen menjadi 4.666 ringgit Malaysia per ton hingga pukul 15.17 WIB.
Kontrak tersebut telah merosot 4,68 persen sepanjang pekan ini, setelah pada pekan sebelumnya menguat 1,74 persen.
Kepala Riset broker minyak nabati Sunvin Group yang berbasis di Mumbai, Anilkumar Bagani, mengatakan harga CPO masih berada dalam tekanan meskipun India memangkas bea masuk impor minyak nabati.
"Produksi minyak sawit yang lebih tinggi dari perkiraan dan ekspor yang lemah telah meningkatkan kekhawatiran bahwa stok Malaysia dapat melampaui 3,1 juta ton pada akhir September," kata Bagani, seperti dikutip Reuters.
Pemerintah India pada Rabu (23/9) memangkas bea masuk dasar untuk minyak nabati mentah dan olahan, termasuk minyak sawit, minyak kedelai, dan minyak bunga matahari.
Kebijakan tersebut ditempuh untuk menekan harga minyak nabati menjelang puncak musim festival di India.
Harga CPO diperkirakan masih menghadapi tekanan seiring meningkatnya persediaan di Malaysia dan lemahnya pembelian dari India, negara importir minyak nabati terbesar di dunia. Di sisi lain, dampak El Nino terhadap pasokan sawit juga belum terasa di pasar.
Pelaku industri menilai kondisi tersebut menjadi beban bagi harga CPO dalam jangka pendek.
Tekanan juga datang dari pasar minyak mentah. Harga minyak turun tipis ketika pasar mempertimbangkan peluang gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di tengah serangan kelompok Houthi terhadap Arab Saudi setelah harga minyak melonjak dalam sepekan terakhir.
Penurunan harga minyak mentah membuat CPO menjadi kurang menarik sebagai bahan baku biodiesel.
Di pasar minyak nabati lainnya, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade turun 1,02 persen, sementara Bursa Komoditas Dalian ditutup karena libur nasional.
Harga CPO turut mengikuti pergerakan minyak nabati pesaingnya karena komoditas tersebut bersaing untuk mendapatkan pangsa pasar minyak nabati global.
Sementara itu, ringgit yang menjadi mata uang perdagangan CPO menguat 0,33 persen terhadap dolar AS.
Penguatan ringgit membuat harga komoditas tersebut sedikit lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang asing. (Aldo Fernando)