Dari sisi biaya, EMAS mencatatkan penurunan biaya tunai (cash cost), di luar royalti dan pendapatan penjualan perak, sebesar 13 persen secara kuartalan menjadi USD778 per ons. Sementara itu, biaya keseluruhan untuk mempertahankan operasi tambang (all-in sustaining cost/AISC) turun 12 persen menjadi USD1.281 per ons.
Untuk mendukung pertumbuhan produksi jangka panjang, EMAS mulai membangun fasilitas CIL Tahap I. Perseroan telah menyelesaikan desain rekayasa dasar, menyiapkan peralatan utama, memobilisasi kontraktor, serta memulai pekerjaan sipil di sejumlah area pabrik.
Fasilitas CIL Tahap I dirancang mampu memproses hingga 14,4 juta ton bijih per tahun, termasuk kapasitas cadangan sekitar 20 persen. Fasilitas tersebut ditargetkan mulai menjalani uji coba operasi pada 2028.
EMAS juga tengah mematangkan pembangunan CIL Tahap II dengan kapasitas yang sama. Kedua fasilitas tersebut akan menggunakan infrastruktur bersama dan ditargetkan memiliki total kapasitas produksi emas sekitar 500.000–700.000 ons per tahun, di luar produksi dari fasilitas heap leach yang telah beroperasi.
Selain pengembangan fasilitas pengolahan, perseroan terus melakukan eksplorasi untuk memperluas potensi sumber daya mineral Tambang Pani. Hasil pengeboran mengonfirmasi perluasan mineralisasi emas di area Pani Deeps serta tambahan mineralisasi di Pani Gap dan Kolokoa Tahap 2.