Jika The Fed menahan suku bunga, langkah tersebut berpeluang menekan term premium dan menjaga yield jangka panjang tetap terkendali.
Sebaliknya, kenaikan suku bunga akan menjadi pukulan bagi strategi tersebut. Yield berpotensi kembali terdorong naik, sementara dolar AS menguat dan memperketat kondisi keuangan global.
Masalahnya, harga minyak kembali menjadi kartu liar.
Perang Iran yang telah berlangsung lebih dari enam bulan sebelumnya mendorong harga Brent mendekati USD126 per barel pada Maret. Harga kemudian mereda ke kisaran USD90-an pada akhir Juli setelah ketegangan sempat turun.
Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Pada 8 September, kelompok Houthi menyerang fasilitas minyak Arab Saudi, memicu kebakaran dan gangguan produksi. Eskalasi tersebut kembali menghidupkan kekhawatiran mengenai pasokan energi global dan mendorong Brent kembali menembus USD100 per barel.
Bagi The Fed, situasi ini menciptakan dilema. Menahan suku bunga dapat membantu meredam yield jangka panjang dan menjaga kondisi finansial tetap longgar, tetapi harga minyak yang tinggi berpotensi membuat inflasi kembali membandel.